Bola.com, Jakarta - Kebiasaan pemain sepak bola menutup mulut ketika berbicara di lapangan kini terancam berujung sanksi.
Dalam rapat umum terbaru International Football Association Board (IFAB) akhir pekan lalu, muncul keputusan mengejutkan: pemain yang menutup mulut saat berbicara kepada lawan bisa dihukum melalui aturan baru yang direncanakan berlaku sebelum Piala Dunia 2026.
Langkah tersebut merupakan respons atas insiden yang melibatkan pemain Real Madrid, Vinicius Junior. Dalam laga Liga Champions pada 17 Februari, ia menuduh pemain Benfica, Gianluca Prestianni, melakukan pelecehan rasial.
Vinicius mengklaim Prestianni menyamarkan ucapannya dengan berbicara di balik bajunya. UEFA kemudian menjatuhkan larangan satu pertandingan kepada Prestianni dan membuka investigasi atas tuduhan tersebut.
Kiper Real Madrid, Thibaut Courtois, menyambut baik wacana pelarangan pemain menutup mulut jika itu dapat membantu memberantas rasisme.
"Dengan kasus Prestianni, situasinya rumit karena akan selalu menjadi kata satu orang melawan yang lain," ujarnya.
"Kami 100 persen bersama Vinicius, yang sudah sangat menderita karena hal seperti ini (pelecehan rasial), tetapi dengan mulut tertutup, Anda tidak pernah bisa benar-benar tahu, dan Benfica tentu akan membela pemainnya. Terserah UEFA dan institusi terkait untuk bertindak," imbuhnya.
Tak butuh waktu lama hingga wacana itu berubah menjadi kebijakan.
Tanda Tanya
Niat di balik aturan tersebut mungkin baik, mencegah pemain menyamarkan perilaku abusif, tetapi penerapannya menimbulkan tanda tanya.
Dalam situasi pertandingan yang kacau, apakah wasit selalu bisa membedakan kapan seorang pemain berbicara kepada rekan setim dan kapan kepada lawan?
Apalagi, praktik menutup mulut sudah berlangsung bertahun-tahun dan menjadi kebiasaan. Bahkan pemain amatir dan kelompok usia muda pun kerap melakukannya, meski tanpa sorotan kamera televisi.
Lalu, mengapa para pemain merasa perlu menyembunyikan apa yang mereka ucapkan, bahkan untuk percakapan yang tampak sepele?
Sebagian jawabannya terletak pada sorotan luar biasa yang kini mengelilingi sepak bola modern. Situasinya tidak selalu seperti ini.
Cerita Deschamps
Kita bisa menengok kembali ke final Euro 2000 di Stadion De Kuip, Rotterdam. Didier Deschamps dan pelatih Prancis saat itu, Roger Lemerre, berdiri beberapa meter terpisah di tengah lapangan, terlibat percakapan serius.
Seharusnya mereka sedang merayakan keberhasilan Prancis menjadi tim kedua dalam sejarah sepak bola putra yang memegang gelar Piala Dunia dan Piala Eropa secara bersamaan, setelah mengalahkan Italia 2-1 lewat gol emas David Trezeguet.
Namun, bahasa tubuh keduanya tegang. Sepekan sebelumnya, media Prancis memberitakan bahwa Deschamps yang kala itu berusia 31 tahun berniat pensiun dari timnas setelah turnamen dan merasa perannya sebagai pemersatu tim kurang dihargai.
Saluran televisi Prancis, LCI, memanfaatkan tayangan kamera tanpa halangan dan menghadirkan pembaca gerak bibir untuk memberi takarir percakapan mereka. Terungkap Lemerre memohon agar Deschamps menunda keputusannya.
"Untuk sekarang, ini waktunya berpesta," katanya.
"Tetapi, saya harus membuat pilihan," jawab Deschamps.
"Saya sudah muak, benar-benar muak."
Menjaga Privasi
Adegan di Rotterdam itu terasa seperti potongan dari era berbeda. Pada masa tersebut, pemain dan pelatih masih berbicara relatif terbuka di lapangan.
Kini, hampir menjadi refleks bagi pemain untuk menutup mulut saat berbicara, baik dengan tangan maupun dengan menarik kerah baju.
Pada level paling dasar, tindakan itu adalah cara menjaga privasi. Entah membicarakan hal pribadi, taktik, atau keputusan dalam pertandingan, para pemain ingin percakapan mereka tak mudah dibaca publik.
Saking seringnya dilakukan, kebiasaan ini hampir menjadi semacam dorongan otomatis.
Apakah itu berlebihan? Mungkin dalam beberapa kasus. Namun, penggunaan pembaca gerak bibir bukan hal asing, terutama dalam mengusut insiden kontroversial.
Publik pernah mencoba mengetahui apa yang diucapkan Marco Materazzi kepada Zinedine Zidane sebelum insiden sundulan kepala di final Piala Dunia 2006.
Kasus John Terry
Begitu pula kasus dugaan ucapan rasis John Terry kepada Anton Ferdinand pada laga Chelsea melawan Queens Park Rangers tahun 2011, yang berujung pada sanksi empat pertandingan dari FA dan pencabutan jabatan kapten Inggris (meski Terry dibebaskan dalam proses pengadilan terpisah terkait tuduhan bahasa rasis).
Perlu dicatat, membaca gerak bibir bukan ilmu pasti. Bahkan profesional pun bisa keliru menangkap konteks dan nuansa. Di era media sosial, potongan video singkat bisa dengan cepat diberi narasi sendiri dan menyebar luas.
"Dulu mungkin seseorang melihat ada yang mengatakan sesuatu, tetapi selain dibicarakan di pub, tidak akan ke mana-mana," ujar seorang pemain Premier League yang berbicara anonim kepada The Athletic pada 2021.
'Sekarang Anda bisa mengunggahnya ke Twitter, lalu seseorang memberi keterangan tentang apa yang mereka katakan, dan akhirnya sampai ke klub," tambahnya.
Perlu Dilindungi
Kini, pemain terlihat menutup mulut saat membahas taktik, berbicara kepada wasit, hingga sekadar berbasa-basi setelah pertandingan. Bahkan manajer seperti Sean Dyche pun pernah melakukannya di pinggir lapangan saat laga melawan Nottingham Forest.
Akhir pekan lalu, Declan Rice tertangkap kamera berjalan meninggalkan lapangan sambil berbicara kepada Bukayo Saka dan asisten manajer Arsenal, Albert Stuivenberg, mengenai ulah suporter Spurs yang mengangkat foto istrinya ketika ia hendak mengambil sepak pojok.
Rice menutup mulutnya dengan baju, tetapi mikrofon tetap menangkap ucapannya.
"Ketika saya hendak mengambil sepak pojok, mereka menunjukkannya, jadi tentu saja saya marah," katanya.
Fenomena ini adalah keunikan yang perlahan meresap ke dalam permainan modern. Mayoritas pemain tentu tidak sedang membocorkan rahasia negara; kemungkinan besar mereka hanya berbincang layaknya rekan kerja di kantor.
Namun, ketika "kantor" itu adalah lapangan sepak bola yang dikelilingi kamera dan ribuan ponsel, wajar jika bahkan percakapan paling biasa pun terasa perlu dilindungi.
Sumber: The Athletic