Isu Politik Bayangi Piala Dunia 2026, Pemain Timnas Inggris Resah

Piala Dunia 2026 dibayangi isu-isu politik, pemain Timnas Inggris pun resah.

BolaCom | Aning JatiDiterbitkan 04 Maret 2026, 03:45 WIB
Pemain Inggris, Harry Kane (kiri), merayakan gol kedua timnya bersama rekan satu timnya dalam pertandingan kualifikasi Grup K Piala Dunia 2026 antara Albania dan Inggris di Tirana, Albania, Senin (17-11-2025) dini hari WIB. (Foto AP/Vlasov Sulaj)

Bola.com, Jakarta - Menjelang Piala Dunia 2026 di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko, sejumlah pemain Timnas Inggris secara terbuka menyampaikan kekhawatiran mereka terhadap tekanan yang muncul akibat isu-isu politik yang tidak terkait sepak bola.

Sumber dari internal tim mengungkapkan bahwa para pemain tidak ingin terjebak dalam pernyataan politik yang bisa mengaburkan fokus kompetisi olahraga terbesar itu.

Advertisement

Kekhawatiran itu muncul di tengah sorotan publik terhadap berbagai kontroversi di luar panggung sepak bola, dari kebijakan imigrasi, larangan perjalanan hingga serangkaian aksi militer yang sedang berlangsung.

Situasi ini memunculkan dilema moral bagi sejumlah federasi sepak bola, termasuk Inggris, di mana ekspektasi untuk memberikan pendapat tentang isu-isu politik yang tak berhubungan langsung dengan pertandingan kerap datang.


Tekanan Jadi "Juru Bicara Politik"

Kiper Inggris #01 Jordan Pickford, bek Inggris #05 John Stones, bek Inggris #06, Marc Guehi, gelandang Inggris #04, Declan Rice, bek Inggris #03, Luke Shaw, gelandang Inggris #11, Phil Foden, gelandang Inggris #26, Kobbie Mainoo, penyerang Inggris #07, Bukayo Saka, gelandang Inggris #10, Jude Bellingham, dan bek Inggris #02, Kyle Walker, menyanyikan lagu kebangsaan sebelum pertandingan final Euro 2024 antara Spanyol dan Inggris di Olympiastadion di Berlin pada 14 Juli 2024. (Adrian DENNIS/AFP)

Maheta Molango, Kepala Eksekutif Profesional Footballers' Association (PFA), mengatakan bahwa beberapa pemain, termasuk kapten tim, Harry Kane, telah menyampaikan kekhawatiran mereka kepadanya.

Mereka tak ingin dipaksa menjadi juru bicara untuk pemerintahan atau badan yang seharusnya memang mengambil posisi dalam isu-isu luas tersebut.

"Kami bicara tentang orang-orang yang pintar, sadar sosial, yang mengerti bahwa mereka tidak hidup dalam gelembung… orang akan memahami bahwa mereka punya platform, dan platform itu bisa dipakai untuk menciptakan dunia yang lebih baik dan mencoba memengaruhi orang. Namun, beberapa dari mereka mengatakan kepada saya bahwa mereka merasa tidak adil jika pada akhirnya, meskipun mereka punya platform, mengapa mereka harus berubah menjadi juru bicara untuk pemerintah atau badan yang sebenarnya seharusnya menjadi pemimpin?" ujar Molango kepada Sky News.

Ia menambahkan bahwa pemain sering kali merasa "diatapi" oleh tuntutan-tuntutan politik yang jauh dari peran utama mereka sebagai atlet.


Pelajaran dari Qatar

Pelatih Timnas Inggris, Thomas Tuchel, meninggalkan lapangan setelah pertandingan kualifikasi Grup K Piala Dunia 2026 antara Albania dan Inggris, di Tirana, Albania, Minggu, Senin (17-11-2025) dini hari WIB. (Foto AP/Vlasov Sulaj)

Isu semacam ini sudah muncul pada Piala Dunia 2022 di Qatar. Saat itu, sejumlah pemain Inggris dan staf, dan bahkan pelatih Gareth Southgate, sempat berada dalam posisi sulit ketika ditanya soal catatan hak asasi manusia Qatar dan sikap mereka terhadap komunitas LGBTQ.

Pertanyaan tentang apakah kapten mereka akan memakai ban lengan warna pelangi di tengah ancaman kartu kuning menjadi satu di antara contoh tekanan politik yang harus dihadapi tim tersebut.

Molango menegaskan kembali bahwa para pemain bukanlah aktivis politik: mereka dibayar untuk tampil di lapangan, bukan untuk menjadi juru bicara politik. Ia berharap pertanyaan-pertanyaan semacam itu ditangani oleh pejabat pemerintah atau federasi, bukan oleh pemain.

 

Sumber: Express

Berita Terkait