Bola.com, Jakarta - Ancaman mundurnya Timnas Iran dari Piala Dunia 2026 berpotensi memicu berbagai konsekuensi dari FIFA, tergantung bagaimana organisasi sepak bola dunia itu mengklasifikasikan keputusan tersebut.
Pernyataan soal kemungkinan mundur itu muncul 12 hari setelah Amerika Serikat melancarkan serangan udara ke Iran yang menewaskan pemimpin tertinggi negara tersebut, Ali Khamenei.
Piala Dunia 2026 akan digelar bersama oleh Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko.
Menteri Olahraga Iran, Ahmad Donyamali, menyampaikan sikap keras pemerintahnya dalam pernyataan di televisi nasional pada Rabu, sebagaimana dikutip oleh Reuters.
"Dengan mempertimbangkan bahwa rezim korup ini telah membunuh pemimpin kami, dalam kondisi apa pun kami tidak bisa berpartisipasi di Piala Dunia," ujarnya.
Ia juga menyinggung situasi keamanan yang menurutnya tidak memungkinkan bagi Timnas Iran untuk ambil bagian dalam Piala Dunia 2026.
"Anak-anak kami tidak aman dan secara mendasar kondisi untuk berpartisipasi tidak ada. Dengan tindakan jahat yang mereka lakukan terhadap Iran, mereka telah memaksakan dua perang kepada kami selama delapan atau sembilan bulan dan telah membunuh serta menjadikan ribuan rakyat kami sebagai martir. Karena itu, kami tentu tidak dapat hadir dalam turnamen tersebut," kata Donyamali.
Iran merupakan negara ketiga yang memastikan tiket ke Piala Dunia 2026. Jika benar-benar mundur setelah lolos kualifikasi, mereka akan menjadi tim pertama sejak Piala Dunia 1950 yang menarik diri dari Piala Dunia setelah memastikan tempat di putaran final.
Potensi Sanksi dari FIFA
Belum ada preseden modern mengenai kasus mundurnya tim setelah lolos ke putaran final sehingga belum jelas bagaimana langkah yang akan diambil FIFA.
Jika keputusan Iran dikategorikan sebagai situasi force majeure, istilah Prancis untuk peristiwa luar biasa atau tak terduga, maka hukuman yang dijatuhkan bisa diringankan atau bahkan dihapus sepenuhnya.
Keputusan tersebut sepenuhnya berada dalam kewenangan FIFA, sebagaimana tertuang dalam regulasi resmi Piala Dunia.
Kemungkinan klasifikasi force majeure dinilai cukup besar mengingat operasi militer AS di kawasan tersebut telah memasuki minggu ketiga dan serangan udara ke Teheran masih berlangsung.
Komentar terbaru Presiden AS, Donald Trump, di media sosial bahkan menyinggung aspek keselamatan para pemain Iran.
"Tim Nasional Sepak Bola Iran dipersilakan ikut Piala Dunia, tetapi saya benar-benar tidak yakin itu keputusan yang tepat bagi mereka, demi keselamatan dan nyawa mereka sendiri," tulis Trump di Truth Social pada Kamis lalu.
Dalam kondisi ekstrem, FIFA juga memiliki kewenangan untuk memindahkan atau menjadwal ulang pertandingan Iran "untuk alasan apa pun", termasuk faktor keselamatan dan keamanan.
Hal ini berarti, laga fase grup Iran yang semula digelar di Amerika Serikat berpotensi dipindahkan ke Kanada atau Meksiko.
Ancaman Denda
Akan tetapi, jika penarikan diri Iran tidak dianggap sebagai force majeure, federasi sepak bola negara itu berpotensi menghadapi sanksi finansial.
Komite Disiplin FIFA dapat menjatuhkan denda minimal sekitar 316 ribu dolar AS (sekitar Rp5,3 miliar) apabila keputusan mundur diumumkan paling lambat 30 hari sebelum laga pertama turnamen.
Jika penarikan diri dilakukan kurang dari 30 hari sebelum pertandingan pembuka, jumlah denda tersebut bisa meningkat menjadi setidaknya dua kali lipat.
Selain itu, Iran harus mengembalikan dana persiapan tim yang diberikan FIFA, yang mencapai sekitar 1,5 juta dolar AS, serta berbagai kontribusi lain yang berkaitan dengan partisipasi di turnamen.
Larangan Bertanding
Di luar sanksi finansial, Iran berisiko dilarang mengikuti kompetisi FIFA berikutnya. FIFA juga berhak menunjuk negara pengganti untuk mengisi slot tersebut di Piala Dunia.
Saat ini, Timnas Irak disebut sebagai kandidat paling mungkin menggantikan Iran karena menjadi tim Asia dengan peringkat tertinggi yang belum lolos kualifikasi.
Sesuai jadwal, Iran seharusnya memulai pertandingan di Grup G di stadion SoFi Stadium di Los Angeles dengan menghadapi Selandia Baru pada 15 Juni dan Belgia pada 21 Juni.
Setelah itu, tim tersebut dijadwalkan bertolak ke Seattle untuk menghadapi Mesir pada 26 Juni.
Sumber: SI