Tiket Final Piala Dunia 2026 Ada yang Tembus Rp39 Miliar, Pep Guardiola: Mahal Banget...

Tiket final Piala Dunia 2026 dilaporkan dijual nyaris mencapai angka 2,3 juta dolar AS (sekitar Rp37 miliar) per lembar di platform resmi penjualan ulang FIFA.

BolaCom | Rizki HidayatDiterbitkan 25 April 2026, 19:45 WIB
Ilustrasi Piala Dunia 2026. (Bola.com/Gemini)

Bola.com, Jakarta - Fenomena harga tiket Piala Dunia 2026 kian memantik kontroversi. Di tengah antusiasme global menyambut turnamen akbar tersebut, sebuah fakta mencengangkan muncul terkait tiket laga final di MetLife Stadium.

Tiket partai puncak turnamen sepak bola terakbar tersebut dilaporkan dijual nyaris mencapai angka 2,3 juta dolar AS (sekitar Rp37 miliar) per lembar di platform resmi penjualan ulang FIFA.

Advertisement

Harga fantastis tersebut berlaku untuk empat kursi kategori reguler di tribune, tepatnya "Category One", area dengan posisi duduk paling dekat dengan lapangan di sisi kanan gawang.

Meski menawarkan sudut pandang yang sangat dekat dengan aksi pemain, kursi tersebut sejatinya tidak memberikan keunggulan signifikan dibanding ribuan kursi lain di stadion yang sama, terutama dalam melihat pertandingan secara menyeluruh.

Yang lebih mengejutkan, harga selangit tersebut tidak dibarengi fasilitas premium. Menurut laporan Sky News, tiket Category One itu tidak mendapatkan akses ke ruang VIP, layanan katering eksklusif, atau kesempatan bertemu pemain.

Nilai yang ditawarkan murni berasal dari lokasi duduk, sebuah gambaran ekstrem dari strategi komersialisasi yang kini diusung FIFA.

 


Mekanisme Baru, Untung Besar untuk FIFA

Piala Dunia FIFA 2026 akan diselenggarakan di 16 kota di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko dari Juni hingga Juli 2026. Turnamen kali ini menandai edisi pertama turnamen itu dengan kompetisi 48 tim dengan total 104 pertandingan. (ULISES RUIZ/AFP)

Untuk pertama kalinya dalam sejarah Piala Dunia, FIFA membuka ruang luas bagi pasar penjualan ulang tiket. Dengan regulasi yang relatif longgar di Amerika Serikat dan Kanada, penonton bebas menjual kembali tiket yang sudah dibeli, dengan harga tanpa batasan dari awal pembelian.

Kebijakan ini jelas menguntungkan FIFA. Organisasi sepak bola dunia tersebut mengantongi komisi 30 persen dari setiap transaksi di pasar sekunder: 15 persen dari penjual dan 15 persen dari pembeli.

Artinya, jika tiket seharga 2,3 juta dolar AS benar-benar terjual, FIFA bisa meraup hampir 690 ribu dolar AS dari satu transaksi saja.

Organisasi suporter Football Supporters Europe bahkan sempat menyindir keras kebijakan ini. "Hanya karena praktik calo legal, bukan berarti FIFA harus ikut menjadi calo," tulis Football Supporters Europe.

 


Harga Termurah Tak Ramah Kantong

Berdiri di samping Trofi Piala Dunia, Presiden FIFA, Gianni Infantino, menyampaikan pidato pada pertemuan musim dingin Konferensi Walikota AS pada 29 Januari 2026 di Washington, DC. Infantino mempromosikan Piala Dunia 2026, yang akan diselenggarakan bersama oleh Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko, menyoroti potensi manfaatnya bagi kota dan komunitas tuan rumah. (Alex Wong/Getty Images via AFP)

Meski kecil kemungkinan ada yang benar-benar membeli tiket seharga jutaan dolar, harga termurah di kategori yang sama tetap mencengangkan, yakni lebih dari 16 ribu dolar AS (Rp276 juta).

Sebagai perbandingan, tiket final Piala Dunia 2022 di kategori serupa hanya dibanderol sekitar 1.600 dolar AS (Rp27 juta). Artinya, terjadi lonjakan harga hingga 10 kali lipat dalam kurun empat tahun.

 


Guardiola: Harganya Terlalu Mahal

Pelatih Manchester City, Pep Guardiola tampak lesu setelah ditaklukkan Real Madrid pada laga leg pertama babak 16 besar Liga Champions di Stadion Santiago Bernabeu (12/3/2026). (AP Photo/Jose Breton)

Manajer Manchester City, Pep Guardiola, turut angkat suara terkait harga selangit tiket menonton pertandingan Piala Dunia 2026. Meski termasuk sosok yang mampu membeli tiket mahal sekalipun, Guardiola justru mengkritik keras arah kebijakan FIFA.

Dia mengenang masa ketika Piala Dunia menjadi perayaan sepak bola yang terjangkau bagi semua kalangan.

"Dulu, Piala Dunia adalah perayaan kebahagiaan sepak bola bagi semua negara. Orang-orang datang dari seluruh dunia untuk mendukung negaranya, dan semuanya masih terjangkau," ujar Guardiola.

"Sekarang ini zaman modern, memang. Tetapi harganya terlalu mahal. Saya tidak tahu alasannya, tetapi semoga mereka bisa memikirkannya kembali," tambahnya.

"Sepak bola adalah milik fans. Fans adalah kunci agar industri ini terus berjalan," tegas eks pelatih Barcelona dan Bayern Munchen tersebut.

Sumber: Sports Illustrated

Berita Terkait