Bola.com, Jakarta - Masih ingat Lewis Holtby? Ia merupakan pemain senior NAC Breda yang terkapar mengalami cedera pada tulang keringnya setelah berduel perebutan bola dengan Justin Hubner pada 12 April 2026 dalam lanjutan Eredivisie 2025/2026.
Saat itu, Justin Hubner bermain tampil penuh kala Fortuna Sittard menjamu NAC Breda pada pekan ke-30 di Stadion Fortuna Sittard, dan pertandingan berakhir dengan sama kuat 1-1.
Sorotan tertuju pada Justin Hubner. Ia kedapatan melakukan satu sentuhan yang membuat satu pemain NAC Breda, Lewis Holtby cedera parah. Tepatnya pada menit ke-34, saat NAC Breda menguasai bola dari lemparan ke dalam. Bola lemparan dalam mengarah kepada Lewis Holtby mendekati wilayah kotak penalti.
Justin Hubner bergerak menghampiri Lewis Holtby, dan memotong bola kaki kirinya. Rupanya halauan dari Hubner itu mengenai kaki kiri Lewis Holtby dan langsung mengerang kesakitan.
Lewis Holtby memegangi bagian atas engkelnya yang kemudian tertangkap kamera siaran langsung, tampak kakinya memar dengan kulit robek karena benturan tersebut. Beruntung bagi Justin Hubner tak mendapat kartu kuning dari wasit dan bukan sebuah pelanggaran.
Di sisi lain, Lewis Holtby memang tak mengenakan perlengkapan deker atau shin guard yang layak, hingga membuat kakinya rawan terkena benturan langsung dari lawan.
Dikritik Para Pengamat
Sejumlah pengamat sepak bola Belanda yakni; Kenneth Perez, Vincent Schildkamp, dan Arno Vermeulen membahas hal tersebut dalam diskusi di program acara Voetbalpraat. Menarik bagi Kenneth Perez yang melontarkan pernyataan cukup menggelitik mengenai pentingnya penggunaan shin guard atau yang sering dikenal dengan deker.
"Mereka sekarang berjalan-jalan dengan benda-benda kecil itu atau bahkan dengan tisu toilet, hanya untuk berjaga-jaga," tutur Kenneth Perez, analis ESPN Nederland.
"Buatlah pilihan. Saya sama sekali tidak bersimpati pada cedera yang diakibatkan oleh hal itu," lanjut mantan pemain Ajax dan PSV.
Pengamat lainnya, Vincent Schildkamp yang memberikan pendapatnya mengenai dampak dari cedera yang dialami Lewis Holtby usai duel perebutan bola dengan Justin Hubner. Ia menyoroti lemahnya regulasi yang ditegakkan termasuk oleh otoritas sepak bola Belanda.
"Itu dimaksudkan untuk melindungi kaum muda, jadi kita harus bertanya-tanya apakah sepak bola profesional mengambil tanggung jawabnya di sini jika mereka membiarkan pemain mereka turun ke lapangan seperti ini," tutur Vincent Schildkamp.
"Anda melihat mereka mengenakan pelindung minimal di kaus kaki mereka dan kemudian sesekali berjalan keluar lapangan sambil menangis dengan benjolan besar," tegasnya.
Pembelaan Lewis Holtby
Lewis Holtby akhirnya kembali bermain setelah cedera itu. Ia dimainkan pada babak kedua saat timnya digasak Ajax Amsterdam 0-2 dalam pekan ke-31 Eredivisie 2025/2026, Sabtu (26/4/2026) dini hari WIB.
Ia dimasukkan pada menit ke-71, menggantikan Maximilien Balard. Lewis Holtby berbicara kepada ESPN Nederland usai laga kontra Ajax, salah satunya adalah membicarakan perihal insiden deker ia kenakan.
"Setiap orang selalu punya pendapat, dan saya tidak peduli. Tapi saya pernah membahas ini sebelumnya bahwa seberapa besar seharusnya pelindung tulang kering itu?" tutur Holtby.
"Jika Anda mengenakan pelindung tulang kering lebih tinggi, pergelangan kaki Anda akan terbuka. Saya ditendang di sana dan membutuhkan jahitan. Jika saya menariknya sedikit ke bawah, saya mendapat jahitan tepat di bawah lutut saya," lanjut pemain veteran itu. "Anda hampir harus mengenakan pelindung tulang kering hoki es agar terlindungi dengan baik."
Tetap Santai
Meski mendapat cedera cukup serius semacam itu, tak membuat Lewis Holtby khawatir. Ia merasa memang lebih nyaman dengan deker kecil yang dikenakan, meski punya potensi rawan mendapat benturan dengan lawan.
"Agak mengejutkan ketika saya melihatnya, tetapi ini bukan pertama kalinya saya dijahit. Saya pulih dengan baik dan cepat. Ada hal yang lebih buruk," tegas pemain asal Jerman berusia 35 tahun.
Di sisi lain, Holtby ikut mengomentari permainan timnya saat dikalahkan Ajax. Timnya semakin terjerembab di papan bawah alias berkutat di zona degradasi, dengan tujuh pertandingan terakhirnya tak pernah menang. Mereka tertahan di posisi ke-17 dengan nilai 25 poin.
Situasi yang semakin sulit bagi NAC Breda untuk menjauhi ancaman turun kasta, sebab kompetisi Eredivisie tinggal menyisakan tiga pertandingan saja.
"Kami mengontrol permainan sebagian besar waktu dan menciptakan peluang, tetapi peluang tersebut tidak tepat sasaran. Masih banyak ruang untuk perbaikan di sana. Ini buruk, tetapi kami harus berjuang untuk keluar dari situasi ini," tandas Holtby.
Sumber: ESPN Nederland