5 Masalah yang Wajib Diselesaikan Liverpool usai Gagal Mempertahankan Gelar Juara

Musim ini menjadi mimpi buruk yang sulit dilupakan bagi Liverpool. Tim yang musim lalu tampil dominan meraih gelar Premier League kini terseok-seok, dan para pendukung di Anfield sudah kehilangan kesabaran.

BolaCom | Gregah NurikhsaniDiterbitkan 12 Mei 2026, 07:00 WIB
The Reds awalnya mampu mencetak gol terlebih dahulu melalui lesatan indah dari Ryan Gravenberch pada menit keenam. (AP Photo/Ian Hodgson)

Bola.com, Jakarta - Musim ini menjadi mimpi buruk yang sulit dilupakan bagi Liverpool. Tim yang musim lalu tampil dominan meraih gelar Premier League kini terseok-seok, dan para pendukung di Anfield sudah kehilangan kesabaran.

Arne Slot berada di bawah tekanan besar setelah reaksi suporter Anfield terhadap pergantian pemain dalam pertandingan terakhir mencerminkan betapa dalamnya ketidakpuasan fans. Perbandingan dengan era suram Brendan Rodgers di musim 2014-15 pun mulai ramai diperbincangkan, dan bukan tanpa alasan. Sports Illustrated

Advertisement

Meski Slot "100 persen yakin" Liverpool akan menjadi tim yang berbeda di musim 2026-27, kondisi saat ini membuat optimisme itu terasa berat untuk dibagi. Ada sejumlah persoalan mendasar yang harus segera dituntaskan jika The Reds ingin bangkit musim depan.

Berikut lima masalah utama yang wajib diselesaikan Liverpool.

 


1. Krisis Regenerasi Pemain Kunci

Pelatih Liverpool asal Belanda, Arne Slot, memeluk striker Mesir nomor punggung 11, Mohamed Salah, setelah pertandingan Premier League Inggris antara Liverpool dan Bournemouth di Anfield, Liverpool, Inggris barat laut, pada 15 Agustus 2025. Liverpool menang dengan skor 4-2. (Paul ELLIS/AFP)

Liverpool tengah memasuki era baru dalam hal skuad, dengan para ikon dari era Jürgen Klopp yang sebagian sudah pergi, sebagian baru saja hengkang, dan sebagian lagi akan segera berpamitan. Tantangan regenerasi ini bukan sekadar soal mengganti nama besar, melainkan soal mempertahankan karakter dan kepemimpinan di dalam ruang ganti.

Mohamed Salah hengkang musim panas ini setelah karier legendaris namun musim yang buruk, sementara kiper andalan Alisson juga dikaitkan dengan kepindahan setelah musim yang diwarnai cedera. Liverpool setidaknya sudah proaktif dengan mendatangkan Giorgi Mamardashvili sebagai penggantinya, namun sang kiper Georgia itu belum sepenuhnya meyakinkan semua pihak.

 


2. Dilema Dua Striker Serupa

Liverpool berhasil memetik poin penuh setelah pesta gol ke gawang West Ham dalam laga lanjutan Liga Inggris 2025/2026 di Anfield, Sabtu (28/02/2026) waktu setempat. (AFP/Paul Ellis)

Liverpool mendatangkan Alexander Isak dari Newcastle United musim panas lalu dalam transfer yang memecahkan rekor, namun debut sang striker Swedia di Merseyside jauh dari kata memuaskan. Cedera patah tulang kaki yang ia alami pada Desember membuatnya melewatkan sebagian besar musim, dan penampilannya setelah kembali pun belum mampu menenangkan kekhawatiran para pendukung.

Persoalannya kini bertambah kompleks karena Hugo Ekitike dan Isak sama-sama memiliki kecenderungan bergerak ke sisi kiri, sehingga menyatukan keduanya dalam satu skema menyerang bukan perkara mudah. Belum ada solusi yang jelas, terlebih Florian Wirtz pun masih berjuang beradaptasi dengan sepak bola Inggris.

 


3. Lini Tengah Terlalu Bebas, Pertahanan Terbuka

(Dari kiri ke kanan, baris belakang) Kiper Liverpool asal Georgia #25, Giorgi Mamardashvili, striker Liverpool asal Prancis #22, Hugo Ekitike, bek Liverpool asal Belanda #04, Virgil van Dijk, bek Liverpool asal Prancis #05, Ibrahima Konate, gelandang Liverpool asal Hungaria #08, Dominik Szoboszlai, dan gelandang Liverpool asal Belanda #38, Ryan Gravenberch, (Dari kiri ke kanan, baris depan) bek Liverpool asal Irlandia Utara #12, Conor Bradley, bek Liverpool asal Skotlandia #26, Andrew Robertson, gelandang Liverpool asal Argentina #10, Alexis Mac Allister, gelandang Liverpool asal Jerman #07, Florian Wirtz, dan striker Liverpool asal Mesir #11, Mohamed Salah, berpose untuk foto tim menjelang kick-off pertandingan League Phase Liga Champions UEFA antara Liverpool dan Real Madrid di Anfield, Liverpool, barat laut Inggris pada 5 November 2025. (Paul ELLIS/AFP)

Liverpool terlalu mudah ditembus musim ini. Ide Slot soal fleksibilitas posisi di lini tengah terbukti membuat pertahanan mereka rentan, karena tidak adanya gelandang bertahan murni yang menjaga area di depan bek.

Ryan Gravenberch yang seharusnya menjadi pemain terdalam justru sering tertangkap di posisi terlalu maju, sementara Alexis Mac Allister yang mulai kehilangan energi tidak selalu bisa kembali tepat waktu. Liverpool bahkan menempati peringkat ke-10 Premier League dalam jumlah serangan balik cepat yang mereka terima, dan hanya lima tim yang kebobolan lebih banyak gol dari situasi serupa.

 


4. Krisis Pemain Homegrown

Bek Liverpool asal Skotlandia bernomor punggung 26, Andrew Robertson (kanan), merayakan gol pembuka bersama gelandang Liverpool asal Inggris bernomor punggung 17, Curtis Jones (kiri), setelah mencetak gol tersebut dalam pertandingan putaran kelima Piala FA Inggris antara Wolverhampton Wanderers dan Liverpool di stadion Molineux di Wolverhampton, Inggris tengah, pada 7 Maret 2026. (Darren Staples/AFP)

Premier League mewajibkan setiap klub mendaftarkan minimal delapan pemain homegrown dari total 25 nama dalam skuad resmi mereka. Liverpool hampir saja tersandung aturan ini musim ini, dan situasinya akan semakin sulit ke depan.

Dua pemain homegrown mereka, Joe Gomez dan Curtis Jones, bersiap hengkang saat kontrak mereka habis pada 2027, sementara Harvey Elliott juga diperkirakan angkat kaki setelah menjalani musim buruk dalam masa pinjaman di Aston Villa. Stok pemain jebolan akademi yang memenuhi syarat homegrown kian menipis, dan kondisi ini bisa mempengaruhi arah kebijakan transfer Liverpool musim panas ini.

 


5. Sisi Kanan yang Mati Suri

Sisi kanan Liverpool yang dulu begitu mematikan kini menjadi titik lemah yang gamblang. Bukan hanya karena performa Salah yang menurun, tetapi kepergian Trent Alexander-Arnold juga meninggalkan lubang besar yang belum tertambal. Hubungan antara Alexander-Arnold dan Salah diyakini turut berkontribusi pada musim luar biasa sang winger tahun lalu, dan tanpa kemampuan passing sang bek kanan, Salah dipaksa menciptakan peluang lebih banyak sendiri.

Jeremie Frimpong yang didatangkan sebagai pengganti Alexander-Arnold kesulitan tampil konsisten, baik sebagai bek kanan maupun penyerang sayap. Ia kurang meyakinkan dalam duel satu lawan satu dan belum mampu memberikan keamanan defensif yang dibutuhkan. Kembalinya Conor Bradley dari cedera berpotensi menjadi titik terang, sementara seberapa efektif Frimpong bisa tampil di liga Inggris masih menjadi tanda tanya besar.


Persaingan di Liga Inggris 2025/2026

Berita Terkait