Apa yang Terjadi jika Iran Mundur dari Piala Dunia 2026? FIFA Terancam Hadapi Krisis Terbesar dalam Sejarah

FIFA terancam menghadapi krisis terbesar sepanjang sejarah Piala Dunia. Kali ini, tak ada yang bisa menyalahkan Presiden FIFA, Gianni Infantino.

Bola.com, Jakarta - FIFA terancam menghadapi krisis terbesar sepanjang sejarah Piala Dunia. Kali ini, tak ada yang bisa menyalahkan Presiden FIFA, Gianni Infantino.

Penyelenggaraan Piala Dunia 2026 yang akan digelar di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko memicu banyak tanda tanya. Pemicunya adalah gejolak yang terjadi di Timur Tengah. 

Dengan rudal masih menghujani sebagian besar kawasan Timur Tengah menyusul serangan yang dipimpin Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran, FIFA menghadapi pertanyaan besar tentang bagaimana turnamen bisa tetap digelar sesuai rencana pada musim panas 2026.

Namun, persoalannya bukan hanya soal partisipasi Iran. Serangkaian masalah lain juga menghantui penyelenggara Piala Dunia 2026.

Kekerasan yang dipicu kartel narkoba di Meksiko selaku tuan rumah bersama, sengketa pendanaan di sejumlah kota di Amerika Serikat, pertanyaan besar soal pengamanan suporter luar negeri jika mereka bisa masuk ke wilayah AS, serta kekhawatiran berkelanjutan terkait transportasi, kualitas lapangan, dan kondisi cuaca. Semua itu membuat FIFA pusing tujuh keliling. 

Padahal, penyelenggaraan Piala Dunia 2026 tinggal sekitar 100 hari lagi. Lalu skenario apa yang mungkin terjadi pada Piala Dunia 2026? Berikut ini analisis Sun Sports, Senin (2/3/2026). 

 

Yuk gabung channel whatsapp Bola.com untuk mendapatkan berita-berita terbaru tentang Timnas Indonesia, BRI Liga 1, Liga Champions, Liga Inggris, Liga Italia, Liga Spanyol, bola voli, MotoGP, hingga bulutangkis. Klik di sini (JOIN)

Iran Mundur atau Tidak?

Belum pernah ada tim yang sudah lolos kualifikasi kemudian dilarang atau mundur dari putaran final Piala Dunia. Namun jika situasi Iran tidak terselesaikan dalam tiga bulan ke depan, FIFA bisa menghadapi sejarah yang tak diinginkan.

Situasi ini bisa berada di luar kendali FIFA jika Federasi Sepak Bola Iran memberi tahu tidak akan mengambil jatah tampilnya.

Ini kemungkinan membuka peluang bagi Irak, yang dijadwalkan menjadi wakil Asia dalam playoff antarbenua bulan ini di Meksiko.

Jika Irak lolos, mereka akan menghadapi Bolivia atau Suriname di Monterrey. Maka kandidat paling mungkin diuntungkan adalah Uni Emirat Arab, yang dikalahkan Irak pada November untuk merebut tiket playoff.

Namun, bukan tidak mungkin Pemerintah AS menolak memberikan izin kepada tim Iran yang mewakili Republik Islam saat ini untuk memasuki wilayah Amerika.

 

Pengamanan Super Ketat

Dinas keamanan AS sejatinya sudah berada dalam siaga tinggi. Namun, situasi di Timur Tengah meningkatkan kekhawatiran akan potensi aksi balasan.

FIFA pernah menghadapi situasi serupa dengan pengamanan ekstra bagi tim AS dan Inggris di Jepang dan Korea Selatan pasca Perang Teluk yang dipicu serangan 11 September.

Namun, dampak dari peristiwa akhir pekan lalu kemungkinan akan membuat pembatasan terhadap suporter yang ingin bepergian ke AS semakin ketat.

Sejumlah suporter Porto sempat dilarang terbang untuk mendukung tim mereka di Piala Dunia Antarklub musim panas 2025. Perjalanan ke AS dari Iran, Mesir, Pantai Gading, dan Senegal juga telah dibatasi secara signifikan oleh kebijakan pemerintah.

 

Keamanan Suporter

Ledakan kekerasan besar yang dipicu kartel di Meksiko pekan lalu, terutama di kota tuan rumah Guadalajara,  menambah kekhawatiran soal keselamatan.

Pemerintah Kanada bahkan telah memperingatkan warganya untuk meningkatkan kewaspadaan di Meksiko karena tingginya tingkat kejahatan dan penculikan.

Guadalajara menjadi pusat aksi balas dendam dengan geng bersenjata yang menutup jalan-jalan utama.

Di sisi lain, beberapa kota di AS masih bergejolak akibat protes terhadap penggerebekan kantor Imigrasi dan Bea Cukai (ICE).

Ketegangan yang meningkat, aparat bersenjata yang tidak terbiasa menghadapi gelombang besar suporter sepak bola, ditambah panasnya musim panas, bisa menciptakan situasi yang mudah meledak.

 

Stadion dan Lapangan

Mengingat penunjukan tuan rumah tiga negara untuk 2026 sudah diberikan delapan tahun lalu, seharusnya urusan stadion menjadi bagian termudah.

Namun pejabat kota di Foxborough, dekat Boston, menolak mengeluarkan izin hiburan untuk Gillette Stadium kecuali pemerintah federal, otoritas negara bagian Massachusetts, atau FIFA membayar 6 juta poundsterling untuk menutup biaya mereka.

FIFA telah berjanji memastikan masalah lapangan yang mengganggu Piala Dunia Antarklub musim panas lalu tidak terulang.

Rumput alami wajib menggantikan permukaan sintetis di tujuh dari 11 stadion AS, yaitu Atlanta, Boston, Dallas, Houston, Los Angeles, New York, dan Seattle, serta Vancouver di Kanada.

FIFA akan menerima kendali stadion jauh lebih awal dibanding musim panas lalu, dengan tim pengawas lapangan penuh yang bertugas memastikan kualitas rumput sesuai standar Piala Dunia.

 

Kondisi Cuaca

FIFA mendengarkan kekhawatiran pemain dan serikat pekerja terkait panas dan kelembapan ekstrem yang membuat laga sore di wilayah pesisir timur AS menjadi mimpi buruk musim panas lalu.

Untuk menghindari pemain tampil dalam suhu terburuk, banyak laga sore akan dimainkan di stadion tertutup di Dallas, Houston, dan Los Angeles.

Akan ada pula jeda hidrasi di tengah tiap babak, menjadikan Piala Dunia seperti pertandingan empat kuarter.

Namun masih ada pertandingan sore dan awal malam yang dijadwalkan di stadion terbuka, membuat laga bergantung pada kondisi cuaca.

Hukum AS mengharuskan pertandingan dihentikan selama satu jam jika badai petir terdeteksi dalam radius 10 mil dari stadion.   

Sumber: The Sun

Video Populer

Foto Populer