Sukses


Surabaya Pertama Kali Jadi Tuan Rumah MILO Champions Cup 2019

Bola.com, Surabaya - Milo Champions Cup memiliki satu kota tuan rumah baru pada tahun 2019. Sejak digelar pada 2015, untuk kali pertama Surabaya menjadi tuan rumah dalam kejuaraan sepak bola U-12 tahunan tersebut. 

Sebelumnya, Milo selalu menunjuk empat kota lain sebagai tuan rumah, yakni Jakarta, Medan, Makassar, dan Bandung. Surabaya kini menjadi kota kelima sebagai wadah para anak-anak dalam berkompetisi di ajang ini. 

“Kami memilih Surabaya karena tidak dimungkiri Jawa Timur adalah salah satu basis kuat sepak bola nasiona. Antusiasi Surabaya juga sangat luar biasa. Saya tidak berlebihan bilang seperti itu melihat anak-anak punya semangat tinggi,” ucap Dony Wahyudi, sports market manajer Milo Nestle, Minggu (24/3/2019). 

Kejuaraan ini sudah berlangsung sejak 23 Maret 2019 di Lapangan Kodam V/Brawijaya, Surabaya. Hari ini, Minggu, pertandingan final dilangsungkan untuk menemukan bakat-bakat muda di Kota Pahlawan. 

“Kami ingin menyebarkan gerakan aktif Indonesia. Lewat gerakan besar ini kami mengajak anak Indonesia gaya hidup aktif dan sehat. Orang tua juga perlu memerhatikan asupan nutrisi aktif dan bergerak melalui olahraga,” kata Dony. 

Penyelenggaraan ini mendapat sambutan dari Sekretaris Umum Askot PSSI Surabaya, Guntur Rahmawan. Dia menilai kegiatan ini bisa mempermudah Askot PSSI Surabaya untuk mendapatkan pemain berbakat dalam berbagai kejuaraan. 

“Ini terobosan baru dari Milo dengan mengadakan pertandingan antar SD. Banyak adik-adik di sini yang punya bakat tapi tidak ikut SSD. Ini menjadi wadah bagi mereka untuk bisa terpantau. Ke depan, pemain itu juga bisa dipilih oleh Askot dipersiapkan untuk kejuaraan yang membawa nama Surabaya,” ujar Guntur.

Dalam acara ini, terdapat dua instruktur, yaitu Ponaryo Astaman dan Kurniawan Dwi Yulianto, yang mendapat tugas memantau bakat muda. Dua mantan pemain Timnas Indonesia akan memilih sebanyak 16 pemain dari 5 kota untuk mengikuti camp.

“Ada sedikit perubahan jika dibandingkan tahun lalu yang menggunakan format 9 lawan 9. Kali ini, kami sesuaikan dengan kurikulum PSSI yang meminta sepak bola grassroot menggunakan 7 lawan 7. Sekarang, sudah kami selaraskan dengan program filanesia,” kata Ponaryo. 

“Kriteria pemain untuk terpilih, sama saja dengan tahun lalu. Yang pasti harus memiliki kompetensi dasar seperti dribel dan passing. Yang jelas, sepak bola grassroot itu menjadi momen buat anak-anak untuk belajar bermain sepak bola dulu,” tutupnya.

Video Populer

Foto Populer