Curhat Colongan Gelandang Timnas Iran: Pemain Bertekad Berjuang untuk Rakyat di Piala Dunia 2026

Ezatolahi, 29 tahun, akan tampil di Piala Dunia untuk ketiga kalinya, sebuah pengalaman yang ia akui sedikit membantu, namun tidak menghilangkan beban yang ada.

Bola.com, Jakarta - Tidak ada tim di Piala Dunia 2026 yang datang dengan beban seberat yang ditanggung Iran. Untuk pertama kalinya dalam sejarah turnamen ini, sebuah negara tuan rumah sedang dalam kondisi perang aktif dengan salah satu peserta, menjadikan kehadiran Iran di Amerika Utara sebagai situasi yang benar-benar tanpa preseden dalam sejarah panjang Piala Dunia.

Konflik ini bermula pada 28 Februari 2026, ketika Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran yang menewaskan lebih dari 1.200 orang dan melukai lebih dari 12.000 orang lainnya. Dalam kondisi itu, menteri olahraga Iran sempat secara tegas menyatakan negaranya tidak akan berpartisipasi di Piala Dunia. Namun dinamika terus berubah.

Gencatan senjata yang rapuh mulai berlaku pada 8 April 2026, diikuti dengan pembicaraan langsung yang langka di Islamabad pada 11 dan 12 April, meski tanpa kesepakatan yang dicapai. Gencatan senjata kemudian diperpanjang sementara upaya diplomatik terus berjalan. Di tengah situasi itulah, Iran akhirnya memutuskan untuk tetap hadir.

Presiden FIFA Gianni Infantino pada 16 April menegaskan bahwa Iran diharapkan tetap berpartisipasi di Piala Dunia, mengingat tim tersebut telah memenuhi syarat dan menyatakan keinginannya untuk bertanding meski perang masih berlangsung. Keputusan itu membuka babak baru yang sama sekali tidak mudah bagi para pemain Iran yang harus menyiapkan diri dalam kondisi yang jauh dari normal.

 

Yuk gabung channel whatsapp Bola.com untuk mendapatkan berita-berita terbaru tentang Timnas Indonesia, BRI Liga 1, Liga Champions, Liga Inggris, Liga Italia, Liga Spanyol, bola voli, MotoGP, hingga bulutangkis. Klik di sini (JOIN)

Ezatolahi: Berita dari Tanah Air Mempengaruhi Pikiran Pemain

Di sela sesi latihan tim di Antalya, Turki, gelandang senior Saeid Ezatolahi berbicara kepada Associated Press tentang realita yang dihadapi para pemain Iran setiap harinya. Ezatolahi, 29 tahun, akan tampil di Piala Dunia untuk ketiga kalinya, sebuah pengalaman yang ia akui sedikit membantu, namun tidak menghilangkan beban yang ada.

"Terus terang, ini tidak mudah. Ini akan menjadi Piala Dunia ketiga saya, jadi bagi saya dan beberapa pemain lainnya, mungkin lebih mudah untuk mengelola hal-hal seperti ini," ujar Ezatolahi dalam bahasa Inggris. "Tapi pada akhirnya, ini akan tetap sulit bagi kami karena pada saat yang sama, kami mengikuti berita dari negara kami, dan hal-hal politik tentu bisa mempengaruhi pikiran para pemain dan masyarakat."

Pemain yang telah berkarier di Spanyol, Rusia, Inggris, Belgia, Denmark, Qatar, dan kini Dubai itu tetap teguh dalam keyakinannya. "Kami perlu menjernihkan pikiran dan menjaga kesegaran karena tugas kami adalah berjuang untuk rakyat kami, mewakili negara kami, dan menunjukkan seberapa baik kami," tegasnya.

 

Visa, Lokasi Latihan, dan Komunitas Iran di Los Angeles

Perjalanan tim Iran menuju Piala Dunia penuh dengan hambatan logistik yang tidak dialami tim lain. Aturan perjalanan era Trump yang diberlakukan kembali menciptakan ketidakpastian besar, dengan tingkat persetujuan visa untuk warga Iran diperkirakan di bawah 15 persen.

Sejumlah pemain harus bepergian ke Ankara untuk mengajukan visa di Kedutaan Besar AS, sementara kesulitan pemrosesan visa sebelumnya memaksa Iran mengubah basis latihan Piala Dunianya dari Tucson, Arizona ke Tijuana di perbatasan Meksiko-California. Tim dijadwalkan berangkat ke Meksiko akhir pekan ini setelah mengamankan visa dari Kedutaan Besar Meksiko di Ankara.

Dua laga pertama Iran dijadwalkan di Los Angeles, 15 Juni melawan Selandia Baru dan 21 Juni melawan Belgia, keduanya di SoFi Stadium, Inglewood. Laga ketiga melawan Mesir digelar di Seattle pada 26 Juni. Los Angeles adalah kota dengan komunitas diaspora Iran yang sangat besar, dan sebagian besar dari mereka diketahui bersikap oposisi terhadap pemerintah Iran saat ini.

"Jadi tentu saja kami berharap akan ada banyak pendukung dalam laga-laga kami di stadion," kata Ezatolahi. "Dan ini akan menjadi tekanan besar bagi kami karena ekspektasinya akan tinggi. Saya hanya berharap kami bisa membuat mereka bangga dan menunjukkan bahwa orang-orang Iran siap menghadapi setiap pekerjaan berat di dunia," imbuhnya.

 

Ghorbani: Kami Pergi untuk Rakyat Iran

Mohammad Ghorbani, 24 tahun, akan menjalani Piala Dunia pertamanya dalam kondisi yang paling tidak biasa. Pemain berbasis di Abu Dhabi itu berbicara dalam bahasa Farsi kepada AP, mengungkapkan perspektif yang mencerminkan bagaimana para pemain muda Iran memaknai keikutsertaan ini.

"Memang benar bahwa kami sedang menghadapi situasi khusus saat ini, tapi kami adalah pemain sepak bola dan kami harus bermain, berlatih, dan mempersiapkan diri untuk kompetisi yang ada di depan kami," kata Ghorbani. "Di sisi lain, kami tahu bahwa rakyat kami telah melewati banyak kesulitan selama perang, dan kami pergi ke sana untuk mereka, untuk meraih hasil terbaik demi kebahagiaan mereka dan kebahagiaan rakyat negara kami."

Ghorbani juga menekankan semangat kesatuan yang ia rasakan di dalam tim di tengah situasi yang mencekam. "Pesan terbaik yang bisa saya berikan sekarang adalah bahwa tim Iran menunjukkan apa artinya menjadi satu tim. Kami menunjukkan bahwa kami adalah satu tim di bawah satu bendera yang bisa membawa kegembiraan bagi seluruh negeri kami, dan menunjukkan kekuatan pemain Iran serta rakyat Iran kepada dunia," ujarnya.

 

Preseden Bersejarah yang Tidak Pernah Ada Sebelumnya

Menurut profesor Jules Boykoff dari Pacific University, pakar politik olahraga internasional, tidak pernah ada preseden di mana negara tuan rumah Piala Dunia menyerang salah satu peserta turnamen hanya sekitar tiga bulan sebelum turnamen dimulai. "Dari sisi sepak bola," kata Boykoff, "ini membawa kita ke wilayah yang belum pernah dipetakan sebelumnya."

Menjelang laga-laga Iran di Los Angeles, otoritas setempat mengonfirmasi tidak akan ada pengerahan ICE di dalam stadion, namun keamanan ekstra tetap disiapkan untuk pertandingan-pertandingan tersebut. Iran, dengan segala beban yang dibawanya, tetap melangkah ke turnamen ini. Bukan hanya untuk sepak bola, tetapi untuk membuktikan bahwa mereka hadir, berdiri, dan berjuang atas nama jutaan orang yang sedang menanggung beban jauh lebih berat di tanah airnya.

Video Populer

Foto Populer