Bendol Soal PTUN: PSSI Tidak Menang, Menpora Tidak Kalah

oleh Riskha Prasetya diperbarui 15 Jul 2015, 07:00 WIB
Benny Dollo (Bola.com/Riskha Prasetya)

Bola.com, Palembang - Keputusan Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Jakarta yang mengabulkan gugatan PSSI terhadap SK pembekuan yang dikeluarkan Menpora, Imam Nahrawi mendapat reaksi dari berbagai pihak pelaku sepak bola di Tanah Air. Pelatih Sriwijaya FC, Beny Dollo alias Bendol mengaku sangat berharap keputusan ini dapat segera menjadi awal baru yang lebih baik bagi sepakbola nasional yang diakui mengalami periode terburuk dalam beberapa tahun terakhir.

Seperti apa pandangannya, berikut wawancara Bola.com bersama Bendol, Selasa (14/7/2015) sore.

Advertisement

Apa harapannya pasca munculnya keputusan PTUN terkait konflik yang melibatkan Menpora-PSSI?

Saya sudah mengetahui dan tentu saja senang sudah ada keputusan terkait permasalahan yang berlarut-larut ini. Namun, saya lebih tertarik dan sependapat dengan pernyataan pengacara PSSI yang mengatakan bahwa hasil di PTUN ini bukanlah mengenai siapa yang menang atau kalah.

Bagaimana caranya setelah ini kompetisi dapat segera bergulir lagi, karena pelaku sepak bola seperti pemain, pelatih, wasit, klub dapat segera kembali ke lapangan hijau. Begitu juga suporter yang selama ini sudah kehilangan tontonannya.

Apa yang harus dilakukan PSSI pasca keputusan ini?

Yang pasti adalah memastikan kompetisi segera bergulir secara normal, namun tentu tetap harus menggandeng pemerintah. Keduanya mesti duduk bersama dan merumuskan masalah dan penyelesaian terbaiknya. Karena memang catatan-catatan yang diberikan Menpora selama ini memang harus diselesaikan seperti kasus tunggakan gaji atau dugaan match fixing.

Harapan terhadap Menpora sendiri?

Menpora yang merupakan perwakilan pemerintah juga punya tanggung jawab memajukan sepak bola di Tanah Air. Namun, peran sertanya bisa diwujudkan dengan pembangunan dan penambahan infrastruktur seperti lapangan, kemudian bantuan kemudahan pengurusan izin turnamen atau kompetisi. Bukan seperti kemarin yang rasanya melampuai batasan wewenangnya.

Jika Menpora masih banding?

Saya berharap tidak seperti itu, karena energi kita sudah terbuang cukup banyak di pusaran konflik ini. Waktu juga seperti terbuang sia-sia, saya sependapat dengan Rahmad Darmawan yang mengatakan bahwa jika Menpora banding maka permasalahan ini akan semakin lama dan tidak berakhir. Padahal kita semua melihat bahwa dalam perselisihan ini banyak pihak yang menjadi korbannya.

Apakah saat ini memang menjadi periode terburuk dalam karier anda sebagai pemain atau pelatih di Indonesia?

Mungkin iya, karena sebenarnya dulu kita sempat mengalami periode buruk saat kompetisi terhenti di tahun 1998, namun memang kala itu era Reformasi dan situasi politik yang tidak stabil. Kemudian di tahun 2011 ada dualisme kepengurusan, namun saat itu kompetisi tidak terhenti dan sama-sama bisa berjalan.

Kali ini, jatuhnya sanksi FIFA sudah menunjukkan bahwa sekarang memang menjadi masa paling buruk dalam sejarah sepakbola nasional.

Baca Juga:

Curahan Hati Asisten Pelatih Sriwijaya FC, Gadaikan Surat Tanah

Hasil Sidang PTUN Pengaruhi Keikutsertaan Sriwijaya FC di PIS

Ikut Piala Indonesia Satu, Sriwijaya FC Kumpulkan Sponsor Lagi