Mengenal Rudiger Vollborn, Legenda Bayer Leverkusen yang Pernah Jadi Supir Bus

oleh Gregah Nurikhsani diperbarui 24 Mei 2020, 11:00 WIB
Rudiger Vollborn, legenda Bayer Leverkusen. (Dok. Thesefootballtimes)

Bola.com, Jakarta - Rudiger Vollborn adalah Mr. Bayer Leverkusen. Bukan tanpa sebab ia mendapatkan julukan tersebut. Pria berusia 57 tahun sudah merasakan semuanya di klub Bundesliga itu.

Lahir dan tumbuh besar di Berlin, Ibu Kota Jerman, Rudiger Vollborn pernah menjadi supir bus hingga bekerja sebagai pekerja arsip di Bayer Leverkusen.

Advertisement

Jelasnya, berikut CV Rudiger Vollborn:

- Bermain di tim B

- Bekerja sebagai asisten administrasi di perusahaan sponsor Bayer Leverkusen

- Bermain sebagai kiper Bayer Leverkusen

- Mengangkat dua trofi prestisius sepanjang sejarah Bayer Leverkusen

- Menemukan bakat seorang kiper yang kelak menjadi kiper utama Bayer Leverkusen

- Bekerja sebagai pelatih akademi klub

- Menjadi pelatih kiper tim utama Bayer Leverkusen

- Menjadi liaison officer (LO) / tour guide Bayer Leverkusen

- Menjadi komentator di stasiun radio ofisial Bayer Leverkusen

- Bekerja sebagai pekerja arsip bersejarah Bayer Leverkusen

- Menjadi supir bus Bayer Leverkusen

 

 

Video

2 dari 3 halaman

Suporter Borussia Monchengladbach

Cardboard pendukung Borussia Moenchegladbach mengisi kursi penonton di stadion Borussia Park, Moenchengladbach, Jerman, Rabu (20/5/2020). Ribuan Cardboard gambar suporter Borussia Moenchegladbach dipasang untuk mendukung timnya saat berlaga di kompetisi Bundesliga. (AFP/Ina Fassbender)

Rudiger Vollborn sejak kecil hobi membaca buku-buku mengenai sejarah. Itu juga yang membuat ia dipercaya merawat arsip Bayer Leverkusen dalam satu momen hidupnya.

Namun demikian, gairah utamanya ada pada sepak bola. Saat usianya 17 tahun, setelah bermain impresif bersama Timnas Jerman junior, tepatnya pada 1981, ia mengeluarkan jawaban polos saat diwawancara media lokal setempat, Kicker.

"Tim favorit saya adalah Borussia Monchengladbach," ujar Rudiger Vollborn.

Jawaban sederhana itu cukup logis. Sebab, meski diincar oleh Bayer Leverkusen, Rudiger Vollborn paham betul bahwa akan sulit kalau ia berseragam Die Werkself, julukan Leverkusen.

Saat itu, Bayer Leverkusen masih diperkuat dua kiper kawakan, yakni Hubert Makel dan Fred-Werner Bockholt. Bagi Rudiger Vollborn muda, tentu bakal sulit sekali merenut posisi utama. Padahal, ia digadang-gadang bakal menjadi kiper nomor satu Jerman.

Bayer Leverkusen kemudian memilih merekrut Uwe Greiner karena lama mendengar jawaban Rudiger Vollborn. Jurnalis Frank Lussem menanyakan mengapa tidak segera memberikan respons, jawaban yang ia dapat sungguh di luar dugaan.

"Saya sedang dalam perjalanan ke Berlin untuk menemui pacar saya," jawab Rudiger Vollborn.

Pada akhirnya, Rudiger Vollborn dan Frank Lussem berkawan baik. Suatu ketika, ia memberi tahu kepada Vollborn bahwa Bayer Leverkusen mengadakan trial, dan tanpa pikir panjang lagi, karena di sisi lain membutuhkan klub profesional juga, Vollborn ikut serta.

Pada saat trial, performa Rudiger Vollborn tidak begitu apik. Namun, karena ketika itu ada pemandu bakat dari tim lain, ditambah petinggi klub sengaja datang untuk menyaksikan langsung sesi trial, Bayer Leverkusen akhirnya tetap merekrutnya.

 

3 dari 3 halaman

Mulai dari Tim B, Bekerja di Pabrik Obat, hingga Memegang Rekor Bermain

Pemain Bayer Leverkusen, Kai Havertz, mencetak gol ke gawang Werder Bremen pada laga Bundesliga di Weserstadion, Bremen, Senin (18/5/2020). Bayer Leverkusen menang 4-1 atas Werder Bremen. (AP/Stuart Franklin)

Karena performanya tidak meyakinkan, Rudiger Vollborn memulai kariernya di tim B. Ia bahkan beberapa kali ditempatkan di Bayer AG, sebuah perusahaan obat yang menjadi sponsor utama klub, sebagai asisten administrasi bisnis.

Debutnya di tim utama terjadi pada 13 Agustus 1983. Tidak tanggung-tanggung, lawannya adalah Bayern Munchen. Meski Bayer Leverkusen finis di tangga ketujuh, terbaik dari yang sudah-sudah, Rudiger Vollborn dianggap biasa saja. Ia bahkan mengalami pengurangan gaji hingga kontraknya habis pada 1985.

Akan tetapi, pelatih baru Erich Ribbeck masih menginginkan Rudiger Vollborn pada musim 1985-1986. Dari situ, performanya membaik. Puncaknya, pada akhir musim 1987-1988, Bayer Leverkusen bersua Espanyol pada laga final UEFA Cup.

Ia dianggap sebagai pahlawan berkat kecemerlangannya di bawah mistar gawang. Bahkan sebenarnya, ia sudah menjadi pahlawan sejak babak semifinal ketika berjumpa sesama tim Jerman, Bundesliga.

Lima tahun berselang, saat juara DFB Pokal, Rudiger Vollborn adalah satu-satunya pemain ketika mengangkat trofi UEFA Cup.

29 Mei 1999 menandakan kemesraannya bersama Bayer Leverkusen. Lawannya tak lain dan tak bukan, Bayern Munchen. Sepanjang kariernya, ia bermain sebanyak 401 di Bundesliga saja, yang menjadi rekor yang belum terpecahkan hingga kini.

Setelah pensiun, Rudiger Vollborn masih bekerja di Bayer Leverkusen. Seperti yang disebutkan tadi, mulai dari pelatih tim akademi, hingga supir bus klub.

Sumber: Berbagai sumber

Berita Terkait