Menyambangi Rumah dan Keluarga Muamar Qadafi di Solo, Pelatih Tunggal Putra Fenomenal Guatemala Kevin Cordon

oleh Vincentius Atmaja diperbarui 03 Agu 2021, 19:15 WIB
Foto lawas pelatih bulutangkis Guatemala asal Indonesia, Muamar Qadafi (dua dari kanan). (Bola.com/Vincentius Atmaja)

Bola.com, Solo - Tunggal putra Guatemala, Kevin Cordon, menciptakan sejarah luar biasa di Olimpiade Tokyo 2020. Dia menjadi pemain pertama asal Guatemala yang berhasil menjadi semifinalis Olimpiade. Ada peran pelatih asal Indonesia di balik sejarah yang ditorehkannya itu. 

Langkah Kevin Cordon dihentikan oleh pebulutangkis Denmark, Viktor Axelsen, Minggu (1/8/2021), di babak semifinal.

Advertisement

Sebelumnya, Cordon menorehkan sejarah dengan mengalahkan pemain Korea Selatan, Heo Kwang-hee, di perempat final. Cordon menang dua gim langsung 21-13, 21-18. Alhasil Cordon melaju ke semifinal untuk bertemu Axelsen.

Setelah tersingkir di semifinal oleh Axelsen, Kevin Cordon berjumpa dengan pebulutangkis tunggal putra andalan Indonesia, Antony Sinisuka Ginting, untuk berebut medali perunggu. Sayangnya, Cordon harus mengakui ketangguhan Ginting 11-21, 13-21.

Di balik kesuksesan Kevin Gordon menembus semifinal Olimpiade Tokyo 2020, ada peran pelatih Indonesia di baliknya. Pebulutangkis peringkat ke-59 dunia itu ternyata sudah lama ditangani oleh pelatih asal Indonesia, tepatnya dari Kota Solo, Muamar Qadafi.

Cukup menarik untuk mengulas sosok Muamar Qadafi, pelatih fenomenal dan potensial yang dimiliki Indonesia. Bola.com berkesempatan menyambangi rumah tempat kelahiran Muamar Qadafi di satu sudut kota Bengawan. Rumahnya terletak dijalan Ontorejo, RT 7 RW 15, Cemani, Grogol, Kabupaten Sukoharjo.

 

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini

2 dari 3 halaman

Sosok Disiplin dan Pekerja Keras

Pemain Guatemala Kevin Cordon (kanan), dan pelatihnya setelah laga perempat final Olimpiade Tokyo 2020, Sabtu (31/7/2021). (AP Photo/Dita Alangkara)

Bola.com disambut oleh orang tuanya, yakni ayah Qadafi bernama Suratman. Ayah Qadafi turut menyampaikan rasa bangga dan bahagia lantaran anaknya menorehkan prestasi hebat bagi negara lain. Sutarman bercerita mengenai masa kecil Muamar Qadafi yang memang menggeluti bulutangkis berkat arahannya.

Menurut penuturannya, Muamar Qadafi kecil mengawali kiprah sebagai siswa di klub Golden Star Solo, bermarkas di GOR Setia, Tipes, Solo. Qadafi termasuk siswa berprestasi di sejumlah kejuaraan, hingga ia ditarik ke PB Djarum Kudus tanpa melewati proses seleksi.

"Ketika belum lulus SD atau masih kelas 5, dia sudah ke Kudus sampai SMA kemudian fokus jadi pelatih. Belum pernah menjadi pelatih di Solo, dia malah langsung menjadi pelatih di luar negeri. Dikirim ke Peru, Guatemala, Meksiko, termasuk membantu Kevin Cordon untuk persiapan Olimpiade saat ini," terang Suratman, Selasa (3/8/2021).

Sang ayah menambahkan Muamar Qadafi adalah sosok yang disiplin, pekerja keras, selalu nurut sama orang tua. Qadafi adalah anak pertama dari tiga bersaudara. Ia lahir di Solo pada 1981 silam atau sudah berusia 40 tahun saat ini.

Saat masih bermain, Qadafi berstatus pemain PB Djarum. Pada 2000, Qadafi berstatus sebagai asisten pelatih teknis untuk klub yang bermarkas di Kudus, Jawa Tengah itu.

 

3 dari 3 halaman

Mencari Pelabuhan Baru

Suratman, ayah Muamar Qadafi saat disambangi di kediamannya. (Bola.com/Vincentius Atmaja)

Pada 2005, ia memutuskan mengadu nasib sebagai pelatih di luar negeri. Kali pertama dia menangani tim nasional Peru, kemudian melatih klub di Ekuador. Suratan nasib kemudian membawanya menangani timnas bulutangkis Guatemala sampai sekarang.

"Saat masuk kelas Taruna di PB Djarum, ia ingin sekali menjadi pelatih. Lantas sejak kecil sudah biasa pisah dari orang tua, jadi kami juga mengikhlaskan dia pergi ke luar negeri," lanjut Suratman.

"Kemarin sempat ada masalah perpanjangan visa di Guatemala, sempat pulang ke Solo untuk mengurus persyaratan, kemudian kembali ke sana dan tinggal di Meksiko sampai sebulan. Sepertinya ada yang menghambat, sampai si Kevin Cordon ikut membantunya dan akhirnya bisa," kata pria berusia 65 tahun itu.

Ayahnya membeberkan kontrak Muamar Qadafi kini telah habis sebagai pelatih Kevin Cordon di Guatemala. Anaknya berpotensi hijrah atau pindah melatih negara lain, tak terkecuali membela negara sendiri.

Ia tak menampik puteranya sempat menjalin penjajakan dengan sejumlah negara yang ingin atletnya dilatih oleh Qadafi. Sutarman tak akan ikut campur dalam urusan karier Muamar Qadafi. Seperti komunikasi terakhir, Qadafi sedang dalam perjalanan pulang dari Tokyo ke Indonesia.

"Dia sama anak dan istrinya tinggal di Yogyakarta. Harapan orang tua yang terbaik saja untuk dia, mau melatih di mana pun. Sempat ada tawaran dari Ukraina, kontrak di Guatemala juga sudah habis, dia mau pulang dulu dan istirahat," tutur Suratman.

"Sekali lagi kami sekeluarga bangga anak saya melatih dengan baik dan sungguh-sungguh. Saya setiap hari komunikasi dengannya. Lihat di televisi nonton terus, bangga dia ikut menguubah situasi di sana. Gagal dapat medali juga tidak masalah, sebuah prestasi tersendiri bagi sebuah negara Guatemala," tandas Suratman.