Tokoh Legendaris Sarat Kontroversial di Sepak Bola Indonesia Andi Darussalam Meninggal Dunia usai Berjuang Melawan COVID-19

oleh Ario YosiaGregah Nurikhsani diperbarui 17 Agu 2021, 04:56 WIB
Alfred Riedl saat menjenguk mantan manajer timnas Indonesia, Andi Darussalam di Singapura, 2018 lalu (Istimewa)

Bola.com, Jakarta - Tokoh sepak bola Indonesia yang lekat akan kontroversi, Andi Darussalam Tabusalla, dikabarkan meninggal dunia pada usia 70 tahun, Senin (16/8/2021) malam waktu setempat.

Sosok yang pernah mengapalai Badan Liga Indonesia dan Sekretaris Liga Utama (Galatama) kelahiran 25 Agustus 1950 silam ini meninggal dunia di Rumah Sakit Wahidin Sudirohusodo, Makassar.

Advertisement

Keterangan dari anggota keluarga almarhum, Andi Darussalam meinggal dunia pukul 23.35 WITA (22.35 WIB).

Andi Darussalam diketahui menderita sakit belakangan ini. Berdasarkan keterangan Eddy Syahputra, agen sekaligus kolega dekat almarhum, rekan baiknya itu telah pulih dari COVID-19, namun kondisinya memburuk akibat penyakit lain yang dialaminya.

Pria yang kerap disapa dengan panggilan akrab Puang tercatat kiga kali terinveksi Corona.

Untuk pertama kali Andi menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit Universitas Hassanudin, Makassar sejak Selasa (7/4/2020) silam.

ADS-sapaan akrabnya, mengaku tak merasakan gejala apa-apa. Mantan manajer tim nasional senior ini justru tahu dirinya terinfeksi setelah berinsiatif sendiri menjalani tes Swab pada Senin (6/4/2007).

Sehari kemudian, hasil tesnya menyatakan ADS positif. Setelah berkonsultasi dengan dokter pribadinya, ia pun memutuskan masuk rumah sakit.

Tepat 14 hari menjalani perawatan dan melakukan empat kali tes Swab, ADS dinyatakan negatif COVID-19. Pada Selasa (21/4/2020), tim dokter yang menanganinya memberi rekomendasi agar ADS melakukan isolasi mandiri di rumah untuk memulihkan kesehatannya.

"Alhamdulillah, saya mendapat kesempatan dan waktu untuk kian mendekatkan diri kepada Allah SWT," cerita ADS saat berkomunikasi dengan Bola.com lewat panggilan video Whatsapp, Kamis (23/4/2020) pagi.

Karakter dan sikapnya yang mudah bergaul dan terbuka kepada siapa sja membuatnya kerap dikaitkat-kaitkan dengan hitam atau putih kompetisi Tanah Air.

Tak pelak, isu miring sering menghampiri dirinya. Andi Darussalam Tabusalla bahkan dicap sebagai Godfather sepak bola Indonesia ketika masih menjabat sebagai Ketua Badan Liga Indonesia.

Untuk julukan satu ini, ADS menanggapinya dengan santai. "Mau bilang saya Godfather silahkan saja. Berarti saya kalian anggap hebat bisa mengendalikan banyak hal di sepak bola Indonesia," katanya diiringi tawa dalam sebuah perbincangan beberapa tahun silam.

 

Video

2 dari 3 halaman

Match Fixing Piala AFF 2010

Mantan Manajer Timnas Indonesia, Andi Darussalam, memberikan keterangan saat jumpa pers di Jakarta, kamis (20/12). Para pemain Timnas Indonesia membantah terlibat pengaturan skor di Piala AFF 2010. (Bola.com/M Iqbal Ichsan)

Meski lekat dengan kontroversi, Andi Darussalam sebetulnya punya andil besar dalam perkembangan sepak bola Indonesia. Dicecar dengan pemberitaan negatif tak membuatnya kapok sebab menurutnya, itu adalah risiko dari pekerjaannya.

"Itu hal yang normal. Bagi saya, ini bagian dari risiko dari prinsip hidup saya yang berteman dengan siapa saja tanpa peduli dengan latarbelakangnya," ujar pria yang akrab disapa ADS ini terkait hubungannya dengan beberapa figur kontroversial saat diwawancari oleh Bola.com.

Namanya bersama Nurdin Halid (Ketua Umum PSSI 2004-2011) sempat jadi bulan-bulanan hujatan kala isu Timnas Indonesia terlibat pengaturan skor di Piala AFF 2010.

Ia tak menepis anggapan bahwa ada pengaturan skor di Timnas Piala AFF 2010, di mana Indonesia kalah 0-3 dari Malaysi pada leg pertama. Skor yang mengejutkan, karena pada fase penyisihan Tim Garuda menggasak Tim Negeri Jiran dengan skor telak 5-1.

Kasus ini tak pernah terungkap tuntas, hanya membuat Nurdin Halid lengser dari jabatannya pada tahun 2011.

"Kalau soal timnas Piala AFF 2010, insting saya mengatakan ada permainan saat itu. Apalagi, setelah saya melakukan investigasi pribadi dengan mengait-ngaitkan sejumlah kejadian sebelum dan sesudah pertandingan melawan Malaysia. Saya juga mendapat masukan dari teman-teman bandar di Malaysia.

"Tapi, saya tidak punya bukti yang kuat. Saya juga pernah diminta penjelasan oleh satgas anti mafia bola. Saya masih ingat pertemuan dilakukan di Hotel Darmawangsa, 26 Desember 2018. Tanpa menyebut nama, saya mengungkap modus, cara oknum mengatur skor dan operasional. Sayang, langkah satgas anti mafia bola berhenti pada satu titik. Yang ditangkap bukan pemain utama," cerita ADS pada 2018.

Gara-gara pernyataan ini Andi Darussalam kembali menghiasi pemberitaan media pada tahun tesebut. Ada suara-suara miring menyebut kalau dirinya membuka kasus 2010 untuk mengalihkan perhatian dari kasus pengaturan skor Liga 3. ADS disebut-sebut terlibat dalam kasus terkini.

"Saya ini siapa? Saya bukan siapa-siapa lagi, kok bisa mengatur skor," ujar Andi enteng menjawab tuduhan yang dilontarkan Bambang Suryo, yang mengaku jadi antek bandar judi internasional yang mengatur banyak pertandingan di Liga 2 dan Liga 3. 

Kasus ini pun tak pernah terungkap hingga selesai, hanya membuat Joko Driyono yang saat itu menjadi pejabat sementara Ketua Umum PSSI (menggantikan Edy Rahmayadi yang mundur karena mencalonkan diri menjadi Gubernur Sumatra Utara) masuk bui tersandung kasus penghilangan barang bukti yang diduga match fixing melibatkan Persija Jakarta.

3 dari 3 halaman

Catur Sebelum Sepak Bola

Andi Darussalam Tabusalla meluncurkan buku keduanya berjudul Aku dan Tuhanku di Warkop Teman Ngopi Makassar, Sabtu (14/11/2020) siang. (Bola.com/Abdi Satria)

Andi Darusallam Tabusalla lahir di Surabaya pada 25 Agustus tahun 1950. Kariernya di dunia olahraga, dimulai para tahun 1970-an ketika mendapat amanah menjadi Wakil Ketua Persatuan Catur Seluruh Indonesia (Percasi) Jakarta Raya.

Dari tangan dinginnya, ia sukses melahirkan banyak pecatur hebat di Indonesia seperti Utut Adianto (alm), Edi Handoko, dan banyak pecatur nasional lainnya yang lahir dari hasil binaannya.

Ia juga dikenal sebagai sosok yang amat dekat dengan almarhum pengusaha kondang, Bob Hasan. "Beliau bersahabat baik dengan ayah saya," ujar Andi Darussalam. 

ADS jadi orang yang selalu mendampingi Bob saat menjalani masa-masa terpuruk tersandung kasus hukum pada 1998. "Saya lama mendampingi beliau. Bahkan sampai beliau keluar dari Penjara Nusakambangan saya masih setia bersamanya," ujar mantan manajer Timnas Indonesia tersebut. 

Keduanya bisa cocok lama karena sama-sama menggemari olahraga. Bob sempat jadi Ketua Umum Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PASI) dalam waktu yang lama.

Andi pernah menjabat sebagai pembantu umum saat klub Makassar Utama lahir. Dia juga menjadi penghubung Makassar Utama dengan Liga Sepak Bola Utama (Galatama).

ADS jadi salah satu tim penggodok konsep Galatama yang menjadi cikal bakal Liga Indonesia yang kini berlabel Liga 1. Selain membina MU, Andi juga salah satu figur yang dekat dengan Arema sejak awal berdiri pada 1987. Ia salah satu pentolan di Yayasan Arema yang mengelola Tim Singo Edan.

Pelan namun pasti Andi menancapkan kakinya di sepak bola Tanah Air. Ia mulai terlibat di kepengurusan pusat PSSI.

Ia mulai melebarkan kemampuannya untuk memberikan kontribusi ke Timnas Indonesia, sebagai manajer. Dirinya menemani Timnas Indonesia tampil di Piala Kemerdekaan 1988, dan ke putaran final Piala Asia di China tahun 1990.

Puang itu juga diberi tanggung jawab memimpin Timnas menghadapi putaran final Piala Asia di Jakarta, tahun 2007, serta Piala AFF 2010.

Andi juga pernah menjabat sebagai Ketua Badan Liga Indonesia di masa kepengurusan Nurdin Halid. Ia bersama Joko Driyono merumuskan kompetisi Indonesia Super League, kompetisi pengembangan Liga Indonesia yang pengelolaannya mengarah ke profesional murni.

Beberapa tahun terakhir ADS mulai meninggalkan keriuhan sepak bola nasional. Terakhir ia telibat sebagai pembina di era kepengurusan duet Djohar Arifin-La Nyalla Mattalitti 2013-2015.

"Sudahlah, yang ngurus PSSI yang muda-muda saja, saya udah sepuh. Saya tetap akan kritis memberi masukan dari luar," tutur pria yang belasan tahun menderita penyakit gagal ginjal, sebelum dua tahun silam mendapat donor dari putranya.

Berpulangnya ADS menyisakan kesedihan yang mendalam. Terlepas dari sejumlah kontroversi yang dibuatnya, peran besarnya buat dunia bal-balan nasional amat besar.

Selamat jalan Puang!