PHK Massal di MU Bikin Anak-Anak Nangis, Pelatih Akademi Jadi Korban

Kebijakan pemangkasan staf yang dilakukan era Sir Jim Ratcliffe di MU memicu kesedihan di akademi.

BolaCom | Aning JatiDiterbitkan 02 Maret 2025, 14:45 WIB
Ketua Grup INEOS Sir Jim Ratcliffe tiba untuk menghadiri Gala Palang Merah tahunan ke-71, di Monako pada 26 Juli 2019. Pria berusia 70 tahun itu resmi mengajukan penawaran untuk mengakuisisi saham mayoritas Manchester United. (AFP/Valery Hache)

Bola.com, Jakarta - Langkah pemotongan biaya alias efiensi yang dilakukan MU di bawah kepemilikan Sir Jim Ratcliffe menuai kontroversi.

Keputusan untuk memberhentikan sejumlah pelatih akademi telah menimbulkan kesedihan mendalam, bahkan membuat beberapa anak menangis.

Advertisement

MU baru belum lama ini mengumumkan gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) terbaru, yang membuat jumlah total staf yang terkena dampak mencapai 450 orang dalam setahun terakhir.

Menurut The Sun, gelombang PHK terbaru ini terutama berdampak pada akademi klub. Sejumlah pelatih akademi diberitahu mengenai pemecatan mereka pada bulan Juli, tepat saat para pemain muda bersiap memulai musim baru.

Sebanyak tujuh staf akademi, termasuk tiga pelatih dengan masa bakti terlama di klub, menjadi korban kebijakan ini.


Situasi Emosional

Pemain Manchester United, Kobbie Mainoo, merayakan golnya bersama Alejandro Garnacho setelah mencetak gol kedua bagi timnya dalam pertandingan fase liga Liga Europa antara FCSB dan Manchester United di stadion National Arena, Jumat dini hari WIB (31-1-2025). (Foto AP/Andreea Alexandru)

Para saksi mata menggambarkan suasana emosional di mana beberapa pelatih tampak berjuang menahan air mata.

Reaksi ini juga memengaruhi para pemain muda, yang ikut menangis setelah melihat mentor mereka begitu terpukul.

Direktur akademi MU, Nick Cox, berusaha menjelaskan situasi ini kepada para orang tua melalui email.

Dalam pernyataannya, ia menegaskan bahwa perubahan ini bertujuan untuk menjadikan klub "lebih ramping dan gesit" guna memastikan daya saing jangka panjang. Namun, banyak orang tua yang merasa kecewa dengan cara klub menangani situasi ini.

Seorang orang tua pemain akademi bahkan melontarkan kritik tajam kepada klub, seperti yang dikutip dari The Sun:

"Cara klub bertindak sungguh keterlaluan. Seperti menunggu sepanjang musim panas, lalu memecat semua guru di hari pertama sekolah—di depan anak-anak. Beberapa pelatih menangis, anak-anak ikut menangis—dan para orang tua bertanya-tanya, 'Apa yang sebenarnya terjadi?'"


Dampak Pemangkasan terhadap Akademi MU

Kemudian, Mainoo sendiri mencatatkan namanya di papan skor. Tendangan placing yang ia lesatkan menyambut umpan Alejandro Garnacho membuat kiper lawan tak berkutik. (AP Photo/Andreea Alexandru)

Akademi MU telah lama menjadi bagian penting dari identitas klub, menghasilkan legenda seperti David Beckham, Ryan Giggs, dan Paul Scholes.

Baru-baru ini, bintang muda seperti Kobbie Mainoo dan Alejandro Garnacho juga muncul dari sistem pengembangan ini.

Namun, pengurangan staf secara signifikan menimbulkan kekhawatiran mengenai keberlanjutan tradisi MU dalam mencetak talenta berbakat.

Secara lebih luas, restrukturisasi klub telah memangkas sekitar sepertiga dari total tenaga kerja MU.

Dengan moral yang berada di titik terendah, muncul pertanyaan besar mengenai bagaimana keputusan ini akan memengaruhi masa depan jangka panjang klub.

 

Sumber: Sporting News

Berita Terkait