Suporter MU Bergerak! Protes Besar terhadap Pemilik Klub pada Laga vs Arsenal

Old Trafford tak lagi sama: suporter MU menuntut perubahan.

BolaCom | Aning JatiDiterbitkan 10 Maret 2025, 06:15 WIB
Para penggemar menggelar aksi protes terhadap kenaikan harga tiket di luar stadion menjelang pertandingan putaran kelima Piala FA Inggris antara Manchester United dan Fulham di Old Trafford di Manchester, Inggris barat laut, pada 2 Maret 2025. (Darren Staples/AFP)

Bola.com, Jakarta - Situasi di MU sedang jauh dari kata ideal, dan kesabaran para penggemar tampaknya sudah habis.

Menjelang laga Premier League melawan Arsenal, Minggu malam WIB (9-3-2025), suporter Setan Merah merencanakan aksi protes besar-besaran sebagai bentuk perlawanan terhadap kepemilikan klub oleh keluarga Glazer serta kebijakan pemotongan biaya yang makin ketat di bawah kendali grup INEOS.

Advertisement

Ketidakpuasan terhadap Glazer bukanlah hal baru—sejak mengambil alih klub 20 tahun lalu, keluarga asal Amerika Serikat itu telah menjadi sasaran kemarahan suporter.

Namun, dengan MU menjalani satu di antara musim terburuk mereka dalam 50 tahun terakhir dan situasi finansial klub kian memburuk, aksi protes kali ini bisa menjadi satu di antara yang terbesar yang pernah terjadi di Old Trafford.


Mengapa Suporter MU Melakukan Protes?

Para pengunjuk rasa berbaris menuju stadion Old Trafford untuk berdemonstrasi menentang pemilik Manchester United menjelang pertandingan Liga Inggris melawan Liverpool di Old Trafford, pada Senin, 22 Agustus 2022. Protes besar-besaran oleh penggemar MU sebelum kick-off ditujukan kepada pemilik klub, keluarga Glazer. (Foto oleh ANTHONY DEVLIN / AFP)

Aksi protes ini diprakarsai oleh kelompok suporter The 1958, yang telah mengorganisasi berbagai demonstrasi menentang kepemilikan Glazer dalam beberapa tahun terakhir.

Mereka menyebut aksi kali ini sebagai satu di antara yang terbesar, bertujuan untuk menyuarakan kemarahan terhadap kepemimpinan klub, kondisi finansial yang merosot, dan kebijakan yang justru membebani suporter serta karyawan klub.

Para pengunjuk rasa akan melakukan pawai dari Tollgate, sebuah pub dekat Old Trafford, menuju stadion sebelum pertandingan dimulai.

Selain itu, protes juga akan berlangsung di dalam stadion, sebagaimana terjadi dalam beberapa laga sebelumnya, termasuk saat MU tersingkir dari Piala FA oleh Fulham.

Steve Crompton, juru bicara The 1958, mengungkapkan:

"Klub ini perlahan sekarat di depan mata kita, baik di dalam maupun di luar lapangan, dan semua itu terjadi karena model kepemilikan saat ini. Klub sedang menuju kehancuran finansial. Utang adalah jalan menuju kehancuran."

[Mantan manajer legendaris] Sir Matt Busby pasti akan berguling di dalam kuburnya jika melihat kondisi saat ini. Manchester United, salah satu institusi sepak bola terbesar di dunia, sedang dipermalukan dan dalam banyak hal menjadi bahan lelucon."


Mengapa Suporter MU Mengenakan Pakaian Hitam saat Melawan Arsenal?

Para pendukung Manchester United membentangkan spanduk untuk memprotes kenaikan harga tiket pertandingan sepak bola selama pertandingan Liga Europa UEFA antara Manchester United dan Glasgow Rangers di stadion Old Trafford di Manchester, Inggris barat laut, pada tanggal 23 Januari 2025. (Oli SCARFF/AFP)

Sebagai bagian dari protes, suporter MU yang hadir di Old Trafford diimbau untuk mengenakan pakaian serbahitam.

Warna hitam dipilih sebagai simbol bahwa klub mereka "perlahan sekarat" akibat utang yang menumpuk, salah kelola, dan eksploitasi terhadap suporter.

Kelompok The 1958 juga meminta mereka yang tidak ikut pawai untuk tetap mengenakan pakaian hitam sebagai bentuk solidaritas terhadap aksi protes ini.


Mengapa Suporter Marah kepada Glazer?

Co-chairman Manchester United asal AS, Avram Glazer, bertepuk tangan menjelang kick-off pertandingan semifinal Piala FA Inggris antara Coventry City dan Manchester United di Stadion Wembley di London barat laut pada 21 April 2024. (Glyn KIRK/AFP)

Kemarahan terhadap keluarga Glazer telah berlangsung sejak mereka mengambil alih MU pada 2005. Hal ini disebabkan oleh cara mereka membeli klub dengan metode leveraged buyout, yaitu mengambil pinjaman dalam jumlah besar dan menjadikan aset klub sebagai jaminannya.

Sejak saat itu, MU menanggung utang besar yang awalnya mencapai lebih dari 500 juta paun, dan kini membengkak hingga lebih dari 1 miliar paun.

Sementara itu, keluarga Glazer terus menarik dividen sekitar 20 juta paun per tahun, meski klub mengalami kemunduran baik secara finansial maupun prestasi.

Berbeda dengan rival mereka seperti Manchester City, Liverpool, Arsenal, dan bahkan Tottenham yang terus berkembang dengan infrastruktur modern serta pengelolaan klub yang lebih baik, MU justru membuang banyak uang untuk transfer pemain mahal tanpa strategi jelas, sementara fasilitas klub seperti stadion dan tempat latihan tetap terbengkalai.

Satu di antara contoh nyata adalah atap Old Trafford yang bocor dan belum diperbaiki selama bertahun-tahun.


Apakah Kedatangan Sir Jim Ratcliffe Mengubah Situasi?

Dilansir dari Manchester Evening, Ratcliffe merupakan pemilik klub Liga Prancis, OGC Nice sebelum kabar tentang keinginnanya membeli klub yang berjuluk Setan Merah tersebut mencuat. (AFP/Valery Hache)

Pada Februari 2024, Sir Jim Ratcliffe membeli saham minoritas di MU, yang awalnya dianggap sebagai harapan baru bagi klub. Namun, perubahan yang diharapkan tidak kunjung terjadi.

Glazer memang menyerahkan kendali atas aspek olahraga klub kepada grup INEOS, tetapi langkah-langkah yang diambil justru makin memperburuk kondisi klub.

Beberapa kebijakan pemotongan biaya yang diterapkan antara lain:

  • Pemecatan ratusan karyawan,
  • Penghapusan harga tiket konsesi,
  • Kebijakan lain yang membuat staf klub merasa tidak dihargai.

Akibatnya, MU makin tertinggal di atas lapangan, sementara kondisi keuangan mereka masih jauh dari stabil.


Aksi Protes Ini Bukan yang Terakhir

Para pengunjuk rasa berbaris menuju stadion Old Trafford untuk berdemonstrasi menentang pemilik Manchester United menjelang pertandingan Liga Inggris melawan Liverpool di Old Trafford, pada Senin, 22 Agustus 2022. Protes besar-besaran oleh penggemar MU sebelum kick-off ditujukan kepada pemilik klub, keluarga Glazer. (Foto oleh ANTHONY DEVLIN / AFP)

Dengan situasi yang makin memburuk, kemungkinan besar aksi protes terhadap kepemilikan klub akan terus berlanjut.

Suporter MU tidak hanya menuntut perubahan, tetapi juga mempertahankan identitas klub yang mereka cintai agar tidak kian hancur di tangan pemilik yang mereka anggap tidak peduli.

Aksi melawan Arsenal ini hanyalah salah satu langkah dalam perjuangan panjang mereka.

 

Sumber: Sporting News

Berita Terkait