Pengakuan Alex Ferguson: Saya Berutang Hidup Saya di MU kepada Satu Orang

Alex Ferguson mengungkap sosok penyelamat karier melatihnya di MU.

BolaCom | Aning JatiDiterbitkan 26 Maret 2026, 15:15 WIB
Sir Alex Ferguson, eks manajer Manchester United. (Dok. manutd.com)

Bola.com, Jakarta - Nama Alex Ferguson tak pernah lepas dari daftar pelatih terbaik sepanjang sejarah sepak bola. Kesuksesan besarnya bersama Manchester United membuatnya dianggap sebagai satu di antara yang paling hebat, bahkan oleh sebagian kalangan dinilai sebagai yang terbaik sepanjang masa.

Sebelum mencetak sejarah di Inggris, Ferguson sebenarnya sudah lebih dulu meraih prestasi bersama St Mirren dan Aberdeen. Namun, warisannya benar-benar terukir lewat pencapaian luar biasa di MU.

Advertisement

Selama menangani Setan Merah, Ferguson mempersembahkan 13 gelar liga Inggris, dua trofi Liga Champions, lima Piala FA, empat Piala Liga, serta berbagai gelar lainnya.

Meski begitu, perjalanan awalnya di Inggris tidak berjalan mulus.

Ditunjuk sebagai pelatih pada 1986, Ferguson harus menunggu hingga Piala FA 1990 untuk meraih trofi pertamanya. Bahkan pada musim 1989/1990, posisinya sempat berada di ujung tanduk. Kemenangan tipis 1-0 atas Nottingham Forest menjadi momen krusial yang meredakan tekanan terhadapnya.


Berutang Hidup kepada Bobby

Legenda Manchester United, Sir Bobby Charlton. (AFP/Oli Scarff)

Di tengah situasi sulit tersebut, sosok Sir Bobby Charlton memainkan peran penting. Meski kemudian membantah anggapan bahwa Ferguson hanya berjarak satu kekalahan dari pemecatan, Charlton dikenal sebagai figur yang konsisten memberikan dukungan kepada Ferguson.

Ferguson pun tak menutupinya. Ia bahkan pernah mengakui bahwa kariernya di MU sangat dipengaruhi oleh dukungan Charlton.

Dalam sebuah kesempatan pada 2016, Ferguson mengungkapkan betapa besar arti kepercayaan Charlton pada masa-masa awalnya di Old Trafford.

"Saya berutang hidup saya di sini kepada Bobby. Dia selalu percaya kepada saya dan, selain sebagai legenda terbesar di klub ini dan pemain terhebat, merupakan sebuah kehormatan besar bisa mengenalnya," ujar Ferguson.


Tak Pernah Goyah

Sir Bobby Charlton. Eks gelandang serang Inggris yang kini berusia 85 tahun ini total memperkuat Manchester United selama 17 musim mulai 1956/1957 hingga 1972/1973. Selama membela MU, ia tampil dalam 3 edisi Piala Dunia, mulai edisi 1962 hingga 1970. Pada edisi 1958 ia sebenarnya masuk dalam skuad Inggris, namun sama sekali tak bermain dan hanya duduk di bangku cadangan. Pada Piala Dunia 1966 di Inggris, ia mampu membawa Inggris menjadi juara setelah menang 4-2 atas Jerman melalui perpanjangan waktu dan selalu tampil penuh dalam seluruh 6 laga Three Lions dengan torehan 3 gol. (AFP/Franck Fife)

Pelatih asal Skotlandia itu juga menegaskan bahwa perjalanan panjangnya di MU dipenuhi banyak momen berharga, tetapi hubungan dengan Charlton menjadi satu di antara yang paling berarti.

"Masa saya di United dipenuhi semua momen hebat, tetapi tidak ada yang lebih berarti daripada persahabatan saya dengan Bobby dan apa yang telah dia lakukan untuk saya," lanjutnya.

Ferguson turut menyoroti karakter Charlton sebagai sosok anutan.

"Kelebihan besar Bobby, dan ini menjadi contoh bagi siapa pun yang sukses, adalah bagaimana dia tetap rendah hati sepanjang hidupnya," ungkap Ferguson.

Charlton mengaku tak pernah kehilangan keyakinan terhadap Ferguson, bahkan ketika tim mengalami kekalahan.

Tidak pernah ada kepahitan terhadap Alex setelah kekalahan. Yang ada justru keyakinan bahwa kesuksesan akan datang pada waktunya," kata Charlton.


Jadi Contoh

Manajer Manchester United Football Club, Alex Ferguson (kanan) dan mantan pemain Manchester United dan Inggris, Bobby Charlton, meluncurkan 'The Manchester United Opus,' sebuah buku setebal 850 halaman yang menjadi saksi sejarah Klub di London, 11 Desember 2006. Buku ini memiliki berat lebih dari 37 kg dan mengisahkan seluruh sejarah Manchester United. (SHAUN CURRY/AFP)

Ia juga menyinggung kebiasaan klub yang terlalu cepat memecat pelatih sebagai satu di antara penyebab masalah.

"Banyak klub mengalami kesulitan karena terlalu cepat memecat pelatih. Kami tidak akan jatuh ke dalam perangkap itu."

Bahkan, menurutnya, hasil melawan Nottingham Forest tidak akan mengubah arah kebijakan klub.

"Bahkan jika kami kalah dari Nottingham Forest, tidak ada yang akan berubah. Sama sekali tidak. Orang-orang di klub tahu arah yang kami tuju dan seperti apa masa depan yang akan datang," jelas Charlton.

Kisah perjalanan Ferguson di MU kini sering dijadikan contoh pentingnya memberi waktu kepada pelatih, terutama saat masih dalam proses membangun tim. Sulit dibayangkan bagaimana sejarah MU akan berubah jika Ferguson benar-benar dipecat di awal kariernya.

Meski Ferguson layak mendapat pujian atas keberhasilannya membalikkan keadaan, ia mengakui bahwa dukungan Charlton pada masa sulit menjadi salah satu faktor penting di balik kesuksesan tersebut.

 

Sumber: Give Me Sport

Berita Terkait