Sukses


Sejarah Kepemilikan Klub Sepak Bola Luar Negeri oleh Pengusaha Indonesia: Inter Milan Diakuisisi, Como Membuahkan Hasil Istimewa

Bola.com, Jakarta - Indonesia kembali menjadi sorotan baru-baru ini, berkaitan dengan suksesnya Como 1907 yang promosi ke Liga Italia 2024/2024. Como 1907 berhasil menyusul Parma untuk naik kelas ke Serie A mulai musim depan.

Como 1907 finis di urutan kedua klasemen Serie B 2023/2024. Tim yang punya ciri khas warna biru itu akan kembali merasakan persaingan kasta tertinggi sepak bola Italia setelah penantian selama 21 tahun.

Hal yang menarik adalah nuansa Indonesia yang ada di balik kesuksesan Como 1907. Keluarga Bambang Hartono, pengusaha Indonesia pemilik Djarum yang membuat Como akan bersaing dengan Inter Milan, AC Milan, dan Juventus musim depan.

Selain Hartono, sudah banyak sosok-sosok pengusaha asal Indonesia yang lebih dahulu memiliki klub luar negeri. Atau beberapa pengusaha yang mengikuti jejak Hartono.

Yuk simak tulisan menarik dari Bola.com soal sejarah kepemilikan klub luar negeri oleh penguasa Indonesia berikut ini.

Yuk gabung channel whatsapp Bola.com untuk mendapatkan berita-berita terbaru tentang Timnas Indonesia, BRI Liga 1, Liga Champions, Liga Inggris, Liga Italia, Liga Spanyol, bola voli, MotoGP, hingga bulutangkis. Klik di sini (JOIN)

2 dari 11 halaman

Erik Thohir (DC United, dan Inter Milan)

Erick Thohir sempat menggegerkan publik Tanah Air ketika mengakuisisi saham Inter Milan sebesar 70 persen yang sebelumnya dimiliki oleh Massimo Moratti.

Thohir membeli Inter Milan pada 2013. Menurut data dari Forbes, mantan petinggi Persib Bandung itu menggelontorkan dana mencapai 480 juta dolar AS (saat itu kurs masih Rp6,7 triliun).

Namun, kekuasaan Thohir hanya bertahan tiga tahun saja. Pada 2016, ia melepas 39 persen sahamnya ke Suning Group, perusahaan multinasional asal China.

Pada Januari 2019, Thohir menjual seluruh sahamnya yang tersisa 31 persen di Inter Milan kepada perusahaan asal Hong Kong Lion Rock. Haknya di La Beneamata pun sudah tidak ada lagi.

Sebelum membeli saham mayoritas Inter, Thohir juga sempat diakuisisi klub Major League Soccer (MLS) atau Liga Utama Amerika Serikat, DC United pada 2012. Thohir bersama rekannya, Jason Levien, membeli saham DC United sebesar 78 persen.

Kebersamaannya bersama DC United berakhir pada Agustus 2018. Semua sahamnya dipegang oleh Levien, sementara Thohir hanya berstatus co-president bersama Stephen Kaplan.

3 dari 11 halaman

Yusuf Mansur Beli Saham Klub Polandia

Ustadz Yusuf Mansur yang memiliki 10 persen saham milik Lechia Gdansk pada 2018.

Yusuf Mansur, ustaz kondang Indonesia, melalui perusahaan financial technology (fintech) miliknya, Paytren juga memiliki sekira 10 persen saham Lechia Gdansk. Klub asal Polandia itu adalah tempat Egy Maulana Vikri menimba ilmu dan menjadi andalan di Timnas Indonesia saat ini.

Disebut-sebut, Yusuf Mansur harus merogoh kocek sebesar 2,5 juta euro (Rp41 miliar) untuk memiliki saham minoritas di Gdansk. Ia membelinya pada 2018.

4 dari 11 halaman

Santini Group Punya Tranmere Rovers

Santini Group merupakan perusahaan Indonesia yang dimiliki oleh Wandi, Lukito, dan Paulus Wanandi. Ketiganya memutuskan untuk membeli saham klub League One, Tranmere Rovers pada 2019.

Dikutip dari laman resmi klub, meski tidak dijelaskan berapa besaran saham atau uang yang dikeluarkan untuk membeli Tranmere Rovers, Santini Group menguasai saham mayoritas klub Inggris tersebut.

5 dari 11 halaman

Imam Arif Punya Saham Leicester City

Juara Premier League 2015-2016, Leicester City juga pernah dimiliki oleh Imam Arif, seorang pengusaha Indonesia. Pada 2011, ia memiliki 20 persen saham klub.

Namun, usia kepemilikan tidak berlangsung lama. Hanya setahun, ia melepas seluruh sahamnya kepada pengusaha asal Thailand, Vichai Srivaddhanaprabha, yang juga pemilik King Power, sponsor utama Leicester.

6 dari 11 halaman

Bakrie Group Tembus Belgia dan Australia

Bakrie Group sempat menguasai klub asal Belgia, CS Vise pada 2011. Beberapa pesepak bola Indonesia seperti Alfin Tuasalamony, Syamsir Alam, Yericho Christiantoko, dan Yandi Sofyan pernah berguru di sana.

Namun, pada 13 Mei 2014, Bakrie Group menjual seluruh sahamnya kepada investor asal Inggris karena masalah finansial.

Bakrie Group menempatkan putra sulung Nirwan Dermawan Bakrie yakni Andika Nuraga Bakrie sebagai Presiden klub. Sedangkan posisi Wakil Presiden klub ditempati oleh Rahim Soekasah.

Selain Vise, Bakrie Group juga sempat mengakuisisi Brisbane Roar, klub asal Australia. Tim tersebut masih dipertahankan hingga saat ini.

7 dari 11 halaman

Sihar Sitorus Ikut Beli Klub Belgia

Tokoh sepak bola nasional, Sihar Sitorus pada Februari 2018 memberikan pernyataan mengejutkan seputar keberhasilannya membeli klub Eropa. Namun, ketika itu Sihar enggan menyebut secara spesifik nama dan liga di mana klub tersebut bermain.

Pada 23 Juni 2018, barulah Sihar Sitorus untuk pertama kalinya menyebut nama klub Belgia miliknya pada acara konferensi pers talent scouting bertajuk Bola.com From North Sumatra to Belgium di satu di antara hotel mewah di Medan.

Mantan anggota Komite Eksekutif PSSI itu mengaku membeli FC Verbroedering Dender, klub yang sekarang ada di Divisi Dua Liga Belgia itu karena sesuai dengan visi dan misinya memajukan sepak bola nasional.

8 dari 11 halaman

Keluarga Hartono Bikin Como Terbang ke Serie A

Djarum Group, melalui SENT Entertainment LTD, menginvestasikan manuver bisnisnya dengan membeli klub Serie C, Como 1907. Dikutip dari Laprovincia di Como, perusahaan ini dikuasai oleh Robert Budi Hartono dan Michael Bambang.

Keduanya adalah pemilik Djarum dan masuk deretan orang paling kaya di Indonesia. Menurut kabar yang berhembus di Italia, Hartono dan Bambang sudah melakukan negosiasi sejak April 2019.

Suntikan dana dari duo Djarum itu tak lepas dari usaha Como yang tengah bangkit pada 2017 setelah dinyatakan bangkrut pada 2004. Padahal, pada musim 2002-2003, mereka sempat merasakan atmosfer Serie A.

Hanya butuh waktu lima tahun bagi pemilik baru Como merasakan buah kesuksesan. Ya, Como di bawah bendera keluarga Hartono baru saja mentas dari Serie B untuk promosi ke Serie A. Terakhir kali mereka bermain di Serie A pada musim 2002/2003 atau 21 tahun lalu.

9 dari 11 halaman

Batavia Sports Group (C.D. Polillas Ceuta)

Batavia Sports Group (BSG) menambah deretan pengusaha Indonesia yang menjadi pemilik klub luar negeri, melalui kerja sama ASIO dengan Batavia Pictures melalui bendera BSG pada tahun 2020.

Dengan begitu, Batavia Sports Group menjadi pemilik sah Polillas Ceuta dengan saham mayoritas dan menguasai seluruh elemen klub, termasuk skuad U-18.

Polillas Ceuta adalah tim kasta keempat Liga Spanyol. Memang terlihat semenjana. Namun, klub yang berada di ujung utara Pulau Afrika ini punya skuad U-18 yang kompetitif.

Skuad U-18 Polillas Ceuta berkompetisi di kasta tertinggi kompetisi U-18 di Negeri Matador bersaing dengan Sevilla, Real Betis, dan tim-tim La Liga lainnya.

Nama kompetisinya adalah Division de Honor Juvenil de Futbol.

10 dari 11 halaman

Duet Erick Thohir dan Anindya Bakrie Beli Oxford United

Anindya Bakrie dan Erick Thohir secara resmi memiliki saham mayoritas klub sepak bola asal Inggris, Oxford United. Adapun Oxford United merupakan tim yang bermain di League One Inggris, kasta ketiga Liga Inggris.

Kepastian Anindya Bakrie dan Erick Thohir menjadi pemegang saham mayoritas diumumkan dalam RUPS Oxford United yang berlangsung pada Selasa (27/9/2022).

Dengan demikian, Anindya dan Erick berhak mempunyai saham sebesar 51% di kubu Oxford United. Komposisi pemegang saham Oxford United masih sama. Ada pengusaha asal Thailand, Sumrith "Tiger" Thanakarnjanasuth dan pengusaha Vietnam, Horst Geicke.

11 dari 11 halaman

Alvin Sariaatmadja Punya Saham di Lecce

Bertambah lagi pengusaha Indonesia yang terlibat dalam klub sepak bola dunia. Klub promosi Serie A 2022/2023, US Lecce, Jumat (27/5/2022) siang waktu Italia, mengumumkan konsorsium bentukan Boris Collardi, Pascal Picci, dan CEO Emtek, Alvin Sariaatmadja, resmi mengakuisisi 10 persen saham klub.

Pascal Picci dan Alvin Sariaatmadja adalah dua investor terbaru Lecce menyusul sukses klub berjulukan I Salentini ini promosi ke kasta tertinggi Liga Italia. Kedua pihak bekerja sama dengan Collardi, bankir asal Italia sekaligus kepala konsorsium.

"Boris Francesco Jean Collardi, Pascal Picci, dan Alvin Sariaatmadja mengambil alih 10 persen kepemilikan klub, menyuntikkan likuiditas langsung ke kas klub," demikian laporan Lecce Prima.

Video Populer

Foto Populer