Kepergian Mohamed Salah Terasa Tepat Baginya dan Liverpool

Kepergian Mohamed Salah dari Liverpool terasa tepat untuk kedua pihak, dirinya dan klub.

Bola.com, Jakarta - Keputusan Mohamed Salah untuk meninggalkan Liverpool pada akhir musim ini terasa seperti langkah yang tepat, bagi dirinya maupun bagi klub.

Di balik sosoknya sebagai bintang besar, Salah ternyata dikenal sebagai pribadi yang gemar belajar. Saat popularitasnya melesat, ia mencoba memahami dunia yang berubah di sekitarnya dengan membaca berbagai buku.

Penyerang asal Mesir itu bahkan kerap menghubungi para penulis secara langsung. Pernah suatu ketika, seorang akademisi asal Mesir yang bekerja di wilayah barat laut Inggris terkejut saat menerima panggilan telepon dari nomor tak dikenal, yang ternyata adalah Salah.

Akademisi tersebut baru saja menerbitkan tulisan tentang hubungan antara tubuh dan pikiran, tanpa menyangka ada yang membaca di luar lingkup kampus di Kairo. Namun, Salah berhasil mendapatkan salinannya dan ingin membahas lebih dalam.

Percakapan mereka berakhir hanya karena kesibukan menjemput anak sekolah, tetapi meninggalkan kesan kuat bahwa Salah sangat serius dalam memaksimalkan potensinya.

Yuk gabung channel whatsapp Bola.com untuk mendapatkan berita-berita terbaru tentang Timnas Indonesia, BRI Liga 1, Liga Champions, Liga Inggris, Liga Italia, Liga Spanyol, bola voli, MotoGP, hingga bulutangkis. Klik di sini (JOIN)

Lebih dari Sekadar Pesepak Bola

Di luar lapangan, Salah bukan sosok yang dangkal seperti yang mungkin terlihat. Ia memahami sastra Afrika dan memiliki ketertarikan pada filsafat, terutama hal-hal yang menurutnya bisa membantu performanya di lapangan.

Ia juga memahami ungkapan yang sering disampaikan intelektual Kenya, Patrick Lumumba: "penari yang baik harus tahu kapan meninggalkan panggung".

Salah masih merasa dirinya mampu tampil baik, meski performanya musim ini menurun drastis. Namun, ia juga sadar bahwa sebaik apa pun seseorang, ada waktunya untuk pergi, terutama saat publik masih menghargai apa yang telah ia lakukan.

Isyarat Perpisahan

Pernyataan resmi klub yang mengumumkan kepergian Salah terasa menyiratkan sesuatu. Disebutkan bahwa sang pemain "telah mencapai kesepakatan dengan klub untuk menutup bab luar biasa selama sembilan tahun di Anfield".

Kalimat itu memberi kesan bahwa keputusan ini didorong dari pihak Salah. Apalagi pada Desember lalu, ia sempat mengaku merasa dikorbankan oleh pihak internal klub setelah dicadangkan dalam laga melawan Leeds United.

Liverpool tidak terkejut dengan pernyataan tersebut, tetapi nada kerasnya membuat mereka terkejut. Saat itu, sebenarnya belum ada rencana untuk melepas Salah. Jika ia merasa tidak puas, klub menilai keputusan ada di tangannya untuk menentukan masa depan.

Salah bukan tipe pemain yang suka ditekan. Ia tampak nyaman mengambil peran sebagai pihak yang mengendalikan situasi. Pada akhirnya, keputusan berpisah, bahkan belum setahun setelah menandatangani kontrak baru berdurasi dua tahun, dirasa menjadi jalan terbaik bagi semua pihak.

Perpisahan yang Layak

Sepanjang kariernya di Liverpool, Salah sempat beberapa kali berada dalam situasi kontrak yang rumit. Pada 2022, sebelum kontrak ketiganya disepakati setelah negosiasi panjang, ia bahkan sempat mempertimbangkan pilihan yang berpotensi merusak reputasinya di Anfield.

Namun, seiring waktu, ia makin menyadari pentingnya menjaga warisan dan statusnya sebagai legenda klub.

Kepergian ini memberi kesempatan bagi kedua pihak untuk berpisah dengan cara yang bersih. Salah diperkirakan akan mendapatkan perpisahan layaknya pahlawan, berbeda dengan Trent Alexander-Arnold yang tidak mendapat momen serupa tahun lalu.

Perpisahan Salah kemungkinan akan mendekati suasana saat Juergen Klopp meninggalkan klub pada 2024, terlepas dari bagaimana musim sulit ini berakhir bagi Liverpool maupun dirinya.

Dampak bagi Klub

Bagi pemilik klub, Fenway Sports Group (FSG), kepergian Salah tentu disertai rasa terima kasih. Namun, di sisi lain, klub juga akan diuntungkan dengan berkurangnya beban gaji, mengingat Salah merupakan satu di antara pemain dengan bayaran tertinggi di Liga Inggris.

Kepergiannya membuka ruang bagi energi baru dalam tim, dengan biaya yang lebih rendah.

Meski begitu, keputusan memperpanjang kontrak Salah di usia 33 tahun sebelumnya juga patut dipertanyakan, terutama di tengah tekanan besar dari suporter yang menuntut klub mempertahankannya.

Liverpool memang sukses di bawah kepemilikan saat ini, tetapi belum mampu menjaga konsistensi kesuksesan jangka panjang. Dulu, kekuatan klub ini terletak pada keberanian untuk melepas pemain-pemain besar di waktu yang tepat.

Namun, perubahan besar yang terjadi dalam skuad musim lalu juga menunjukkan bahwa masalah Liverpool saat ini tidak hanya berkaitan dengan Salah.

Masa Depan Masih Tanda Tanya

Untuk saat ini, belum jelas ke mana Salah akan melanjutkan kariernya. Sang agen, Ramy Abbas, bahkan menyindir berbagai spekulasi yang beredar, menyebut banyak pihak hanya mencari perhatian.

"Kami tidak tahu di mana Mohamed akan bermain musim depan. Itu berarti tidak ada orang lain yang tahu," katanya.

Yang pasti, kepergian Salah menandai berakhirnya sebuah era di Anfield. Namun, pengaruh dan daya tariknya sebagai bintang besar dipastikan akan tetap mengikuti ke mana pun ia melangkah selanjutnya.

 

Sumber: The Athletic

Video Populer

Foto Populer