FIFA Berlakukan Kartu Merah untuk Pemain yang Menutup Mulut saat Konflik di Piala Dunia

FIFA mengumumkan perubahan aturan baru menjelang Piala Dunia 2026. Salah satu poin utama adalah pemberian kartu merah bagi pemain yang menutup mulut saat terlibat konfrontasi dengan lawan di lapangan.

Bola.com, Jakarta - FIFA mengumumkan perubahan aturan baru menjelang Piala Dunia 2026. Salah satu poin utama adalah pemberian kartu merah bagi pemain yang menutup mulut saat terlibat konfrontasi dengan lawan di lapangan.

Keputusan ini diambil setelah pertemuan International Football Association Board (IFAB) di Vancouver, Selasa waktu setempat. Aturan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat langkah melawan rasisme dalam sepak bola.

Perubahan ini tidak berdiri sendiri. FIFA juga memperkenalkan aturan tambahan terkait sanksi bagi pemain yang meninggalkan lapangan sebagai bentuk protes terhadap keputusan wasit.

Seluruh aturan baru ini akan diterapkan pada Piala Dunia 2026, yang diikuti 48 tim dan akan dimulai pada 11 Juni dengan laga pembuka antara Meksiko melawan Afrika Selatan di Mexico City.

 

Yuk gabung channel whatsapp Bola.com untuk mendapatkan berita-berita terbaru tentang Timnas Indonesia, BRI Liga 1, Liga Champions, Liga Inggris, Liga Italia, Liga Spanyol, bola voli, MotoGP, hingga bulutangkis. Klik di sini (JOIN)

Menutup Mulut Saat Konflik Bisa Berujung Kartu Merah

Dalam aturan baru, pemain yang menutup mulut saat beradu argumen dengan lawan berisiko langsung dikeluarkan dari pertandingan. Keputusan ini bersifat situasional dan bergantung pada penilaian penyelenggara kompetisi.

“Atas kebijakan penyelenggara kompetisi, setiap pemain yang menutup mulut dalam situasi konfrontasi dengan lawan dapat dikenai sanksi kartu merah,” demikian pernyataan FIFA.

Aturan ini muncul setelah insiden di Liga Champions yang melibatkan Gianluca Prestianni dari Benfica dan Vinicius Junior dari Real Madrid. Dalam kejadian tersebut, Prestianni menutup mulutnya saat melontarkan ucapan bernada rasis.

Vinicius terlihat emosional usai insiden tersebut, sementara Prestianni kemudian dijatuhi sanksi larangan bermain enam pertandingan oleh UEFA.

 

Infantino Tegaskan Tidak Ada Toleransi

Dalam praktik sepak bola, pemain kerap menutup mulut saat berbicara, baik dengan rekan setim maupun saat menyusun strategi di lapangan. Namun, FIFA melihat kebiasaan ini bisa disalahgunakan untuk menyembunyikan ucapan yang tidak pantas.

Presiden FIFA, Gianni Infantino, menyatakan bahwa tindakan tersebut harus ditindak tegas jika berdampak pada rasisme.

“Jika seorang pemain menutup mulutnya dan mengatakan sesuatu, dan itu memiliki konsekuensi rasis, maka dia harus dikeluarkan, tentu saja,” ujar Infantino.

“Ia harus dianggap telah mengatakan sesuatu yang tidak seharusnya, kalau tidak, dia tidak perlu menutup mulutnya. Jika Anda tidak punya sesuatu untuk disembunyikan, Anda tidak akan menutup mulut saat berbicara. Sesederhana itu,” tegasnya.

 

Protes dengan Meninggalkan Lapangan Juga Disanksi

Selain itu, FIFA juga menetapkan aturan baru terkait aksi protes terhadap wasit. Pemain yang meninggalkan lapangan sebagai bentuk protes dapat langsung dikenai kartu merah.

“Atas kebijakan penyelenggara kompetisi, wasit dapat memberikan kartu merah kepada pemain yang meninggalkan lapangan sebagai bentuk protes terhadap keputusan wasit,” bunyi pernyataan FIFA.

“Aturan baru ini juga berlaku bagi ofisial tim yang mendorong pemain untuk meninggalkan lapangan,” lanjut pernyataan tersebut.

FIFA juga menegaskan bahwa tim yang menyebabkan pertandingan dihentikan akibat aksi tersebut akan dinyatakan kalah.

Aturan ini merujuk pada insiden di final Piala Afrika pada Januari lalu, ketika pemain Senegal meninggalkan lapangan sebagai bentuk protes terhadap penalti yang diberikan kepada Maroko di babak tambahan waktu.

 

Sosialisasi ke 48 Tim Peserta

IFAB menyatakan bahwa seluruh 48 tim peserta Piala Dunia 2026 akan mendapatkan sosialisasi terkait perubahan aturan ini dalam beberapa pekan ke depan.

Dengan adanya regulasi baru ini, FIFA berharap setiap pertandingan dapat berjalan lebih tertib sekaligus meminimalkan potensi tindakan yang mencederai nilai sportivitas di lapangan.

Timnas Corner: Semua Tentang Timnas Indonesia
Timnas Corner: Semua Tentang Timnas Indonesia
Lihat Selengkapnya

Video Populer

Foto Populer