FIFA Balas Serangan UEFA soal Kartu Merah Folarin Balogun di Piala Dunia 2026: Jangan Munafik!

FIFA menuduh UEFA munafik dalam perang kata-kata terbaru atas keputusan Folarin Balogun.

Bola.com, Jakarta - FIFA membalas kritik UEFA terkait keputusan mencabut sanksi larangan bermain penyerang Amerika Serikat, Folarin Balogun.

FIFA bahkan menuding UEFA bersikap munafik karena mengkritik keputusan yang menurut mereka lazim diterapkan di kompetisi-kompetisi Eropa.

Dalam pernyataan yang dikaitkan dengan Ketua Komite Disiplin FIFA, Mohammad Al Kamali, dan dirilis sebelum laga 16 besar antara Amerika Serikat melawan Belgia, FIFA menegaskan pencabutan atau pembatalan konsekuensi kartu merah merupakan praktik yang umum di liga-liga yang bernaung di bawah UEFA.

FIFA menyebut keputusan yang diambil terhadap Balogun merupakan langkah yang seimbang dan bukan sesuatu yang baru dalam sepak bola modern.

Sebelumnya, UEFA mengeluarkan pernyataan keras pada Senin waktu setempat.

Mereka menilai FIFA telah melewati "garis merah" karena mengizinkan Balogun tampil melawan Belgia, meski aturan Piala Dunia menyebut kartu merah otomatis berujung larangan bermain satu pertandingan.

Keputusan yang membuat Balogun tetap bisa bermain itu muncul setelah kartu merah yang diterimanya saat Amerika Serikat mengalahkan Bosnia dan Herzegovina pada babak 32 besar.

Yuk gabung channel whatsapp Bola.com untuk mendapatkan berita-berita terbaru tentang Timnas Indonesia, BRI Liga 1, Liga Champions, Liga Inggris, Liga Italia, Liga Spanyol, bola voli, MotoGP, hingga bulutangkis. Klik di sini (JOIN)

Pernyataan FIFA

Menurut laporan tersebut, keputusan itu belum pernah terjadi sebelumnya di ajang Piala Dunia dan diambil setelah adanya lobi berulang dari Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, serta sejumlah pejabat senior Gedung Putih kepada FIFA.

"Meninjau kembali konsekuensi hukum dari kartu merah bukanlah hal baru dalam sepak bola modern," demikian bunyi pernyataan FIFA dikutip dari The Guardian.

"Di sebagian besar liga papan atas yang berada di bawah asosiasi anggota UEFA, pembatalan konsekuensi kartu merah merupakan langkah disipliner yang umum dan tidak pernah dianggap telah melewati 'garis merah'."

FIFA juga menegaskan kartu merah yang diterima Balogun tidak dibatalkan. Menurut badan tersebut, yang dilakukan Komite Disiplin FIFA adalah menangguhkan pelaksanaan sanksi larangan bermain berdasarkan ketentuan yang secara tegas tercantum dalam regulasi yang berlaku.

Pernyataan Al Kamali tidak menyinggung peran Donald Trump. Namun, dia menegaskan Komite Disiplin FIFA bekerja secara independen dari jajaran eksekutif yang dipimpin Presiden FIFA, Gianni Infantino.

Situasi Berubah

FIFA sebelumnya memilih bungkam sejak mengumumkan Balogun dapat dimainkan melawan Belgia. Situasi berubah setelah Trump mengungkap secara terbuka bahwa dirinya telah menghubungi Infantino dan meminta agar kartu merah Balogun ditinjau kembali.

Infantino kemudian menegaskan dirinya tidak terlibat dalam proses pengambilan keputusan tersebut. Setelah itu, FIFA merilis penjelasan dari Al Kamali mengenai mekanisme yang ditempuh Komite Disiplin.

Dalam penjelasannya, FIFA menyatakan seluruh badan yudisialnya, termasuk Komite Disiplin, bekerja secara independen sesuai Statuta FIFA dan Kode Disiplin FIFA.

Ketua, wakil ketua, dan seluruh anggotanya juga disebut memenuhi persyaratan independensi sebagaimana diatur dalam regulasi tata kelola FIFA untuk menjamin sikap tidak memihak.

Penegasan FIFA

FIFA kembali menegaskan Komite Disiplin tidak membatalkan keputusan wasit yang mengusir Balogun dari lapangan.

Komite tersebut tetap menjatuhkan sanksi larangan bermain satu pertandingan sebagaimana diatur dalam Pasal 66.4 Kode Disiplin FIFA dan Pasal 10.5 Regulasi Piala Dunia FIFA 2026.

Namun, berdasarkan Pasal 27 Kode Disiplin FIFA, pelaksanaan sanksi otomatis tersebut ditangguhkan selama masa percobaan satu tahun. FIFA menyebut keputusan itu diambil setelah mempertimbangkan seluruh keadaan khusus yang melatarbelakangi insiden serta bukti-bukti yang tersedia.

FIFA juga menegaskan Pasal 27 memberikan kewenangan kepada Komite Disiplin untuk menangguhkan pelaksanaan sanksi disipliner selama kasus tersebut tidak berkaitan dengan manipulasi pertandingan.

Menurut FIFA, penerapan pasal itu juga pernah dilakukan pada pertandingan Kualifikasi Piala Dunia 2026.

Sesuai Prinsip Umum

Selain itu, FIFA menyatakan tidak ada ketentuan dalam Kode Disiplin FIFA maupun Regulasi Piala Dunia FIFA 2026 yang melarang Komite Disiplin menggunakan kewenangan tersebut.

FIFA menilai langkah itu sepenuhnya sesuai prinsip umum penjatuhan sanksi disipliner yang diatur dalam Pasal 25 Kode Disiplin FIFA.

Sementara itu, Infantino mengatakan baru mengetahui keputusan Komite Disiplin setelah hasilnya diumumkan kepada publik.

"Saya membaca keputusan Komite Disiplin FIFA setelah keputusan itu diterbitkan. Terkadang saya terkejut. Kadang saya setuju, dan kadang saya tidak setuju," ujar Infantino.

Di sisi lain, Belgia masih menyimpan keberatan atas keputusan FIFA tersebut dan sedang mempertimbangkan membawa persoalan ini ke Pengadilan Arbitrase Olahraga (CAS).

 

Sumber: The Guardian

Video Populer

Foto Populer