GP Bahrain dan Arab Saudi Batal dan FIA Rugi USD100 Juta, Formula 1 Pasti Bisa Bertahan

Balapan yang awalnya dijadwalkan berlangsung pada 12 April di Bahrain dan 19 April di Arab Saudi kini telah ditarik dari kalender resmi Formula 1 musim 2026.

Bola.com, Jakarta - Dunia balap Formula 1 kembali menghadapi gangguan besar akibat situasi geopolitik yang memanas. Eskalasi konflik di Timur Tengah yang terus meningkat membuat Federasi Otomotif Internasional (FIA) dan Formula 1 resmi membatalkan dua balapan penting.

Dua balapan tersebut adalah Grand Prix Bahrain dan Grand Prix Arab Saudi. Keputusan ini menciptakan jeda tak terencana selama lima minggu antara Grand Prix Jepang dan Grand Prix Miami.

Balapan yang awalnya dijadwalkan berlangsung pada 12 April di Bahrain dan 19 April di Arab Saudi kini telah ditarik dari kalender resmi musim 2026.

Dengan pembatalan ini, jumlah total balapan dalam musim ini berkurang dari 24 menjadi hanya 22 seri. Dampaknya tidak hanya terasa di atas lintasan, tetapi juga terasa sangat besar secara ekonomi dan logistik.

 

Yuk gabung channel whatsapp Bola.com untuk mendapatkan berita-berita terbaru tentang Timnas Indonesia, BRI Liga 1, Liga Champions, Liga Inggris, Liga Italia, Liga Spanyol, bola voli, MotoGP, hingga bulutangkis. Klik di sini (JOIN)

Keamanan Udara dan Tanggung Jawab Hukum Jadi Alasan Pembatalan

Keputusan pembatalan Grand Prix Bahrain dan Arab Saudi didasarkan dua alasan utama: pembatasan dan penutupan ruang udara di kawasan Timur Tengah dan Teluk, serta risiko keamanan yang tinggi dalam pengiriman peralatan Formula 1.

Sebelum balapan setiap serinya, setiap tim harus memindahkan ratusan ton kargo dari satu sirkuit ke sirkuit lainnya. Muatan itu mencakup mobil balap, suku cadang, peralatan pit lane, hingga infrastruktur siaran langsung. Semua ini sangat bergantung pada koordinasi ketat pesawat kargo.

Namun, dengan serangan rudal dan drone yang terus-menerus terjadi di kawasan tersebut, jalur penerbangan dinilai terlalu berbahaya untuk operasi logistik global Formula 1.

Selain aspek logistik, tanggung jawab hukum terhadap keselamatan juga menjadi faktor utama. Menurut aturan tata kelola FIA, Formula 1 wajib menjamin keselamatan pembalap, staf, dan penonton sebelum menyelenggarakan sebuah event.

Dengan adanya konflik militer dan ketidakstabilan keamanan, menyelenggarakan balapan di kawasan itu akan melanggar prinsip dasar FIA.

Kerugian Mencapai USD100 Juta

Meskipun keselamatan menjadi prioritas utama, pembatalan dua balapan ini membawa konsekuensi finansial yang sangat besar. Diperkirakan, Formula 1 akan kehilangan sekitar USD100 juta akibat pembatalan GP Bahrain dan Arab Saudi.

Balapan Arab Saudi diketahui memiliki biaya penyelenggaraan sekitar USD60 juta per tahun, sementara GP Bahrain bernilai sekitar USD55 juta. Biaya ini mencakup pembayaran dari tuan rumah atau hosting fees, sponsor, dan pendapatan tiket.

Selain itu, F1 juga kehilangan pendapatan dari aktivasi sponsor di sekitar lintasan, paket hospitality eksklusif, dan penjualan tiket selama akhir pekan balapan.

Kedua sirkuit ini biasanya menarik cukup banyak penonton, baik lokal maupun internasional, yang secara tidak langsung mendukung ekosistem komersial olahraga balap mobil paling elit di dunia ini.

Sejarah Membuktikan Formula 1 Bisa Bertahan dari Gangguan Geopolitik

Ini bukan kali pertama Formula 1 harus menyesuaikan kalender balapannya akibat krisis global. Dalam sejarahnya, olahraga ini telah beberapa kali menghadapi gangguan serius.

Pada 2011, GP Bahrain dibatalkan karena kerusuhan sosial dan ketegangan politik di dalam negeri. Lalu, selama pandemi COVID-19, kalender balapan 2020 harus direncanakan ulang secara total, dengan banyak balapan yang dibatalkan atau dipindahkan ke sirkuit netral.

Kemudian pada 2022, GP Rusia dibatalkan menyusul invasi Rusia ke Ukraina. FIA mencabut pengakuan acara itu sebagai bentuk protes terhadap konflik bersenjata.

Fakta bahwa F1 telah menghasilkan keuntungan besar dalam beberapa tahun terakhir memberi olahraga ini ruang napas untuk tetap stabil meski menghadapi gangguan tak terduga seperti ini.

Meski merugi hingga ratusan juta dolar, struktur keuangan yang kuat membuat F1 tetap bisa bertahan tanpa krisis serius.

  

Video Populer

Foto Populer