8 Pemain Serba Bisa Pilihan Alfred Riedl di Timnas AFF 2016

oleh Ario Yosia diperbarui 03 Agu 2016, 10:00 WIB
8 Pemain Serba Bisa Pilihan Alfred Riedl di Timnas AFF 2016 (Bola.com/Adreanus Titus)

Bola.com, Jakarta - Tuntutan perkembangan taktik sepak bola modern menuntut seorang pemain tidak terpaku pada satu posisi bermain. Seorang pesepak bola dalam sebuah pertandingan bisa melakukan transisi bermain, baik sebagai bek, gelandang, atau penyerang.

Timnas Belanda sebenarnya sudah memulai kultur pemain serba bisa sejak Piala Dunia 1974 dan 1978. Gaya bermain Total Football menuntut seorang pemain bisa menjalankan fungsi sebagai pemain menyerang atau bertahan sekaligus.

Advertisement

Dari tahun ke tahun De Oranje terhitung produktif menghasilkan pemain-pemain multifungsi. Contoh terkini Daley Blind, bintang Manchester United, yang bisa fasih tampil sebagai bek tengah, bek sayap, serta gelandang bertahan.

Saat menghadapi event-event internasional, kehadiran pemain-pemain multifungsi amat membantu seorang pelatih. Terutama saat menghadapi situasi ia kehilangan pemain karena cedera serta akumulasi kartu.

Alfred Riedl menetapkan 47 nama pemain untuk mengikuti seleksi Piala AFF 2016. Beberapa nama di antaranya terhitung pemain serbabisa, yang bisa berlaga di lapangan lebih dari satu posisi.

Beberapa di antara mereka telah menjalani peran tersebut saat membela Timnas Indonesia, baik pada ajang Piala AFF atau SEA Games. Saat menghadapi persaingan keras Piala AFF 2016, amat mungkin tenaga mereka kembali diberdayakan.

Bola.com mencatat ada delapan pemain serba bisa di daftar seleksi Timnas Indonesia Piala AFF 2016. Siapa-siapa saja mereka?

 

2 dari 9 halaman

Manahati Lestusen

Manahati Lestusen (Bola.com/Nicklas Hanoatubun)

Karier sepak bola Manahati Lestusen dimulai sejak mengikuti program pelatnas jangka panjang SAD di Uruguay pada tahun 2010. Di negara pengoleksi dua gelar juara Piala Dunia tersebut ia berlajar bermain di banyak posisi. Terutama di tengah dan belakang.

Namun, perlahan pemain belia kelahiran Ambon, 17 Desember 1993 ajeg bermain di posisi gelandang bertahan, baik saat membela tim SAD, Penarol (2012), dan CS Vise (Belgia/2013).

Pelatih Timnas Indonesia U-23, Rahmad Darmawan, melakukan eksperimen menempatkan Manahati sebagai stoper saat SEA Games 2013. Kala itu Tim Garuda Muda sedang krisis bek tengah.

Rahmad melihat potensi Manahati bermain bagus sebagai stoper. Walau tinggi badannya tidak tinggi (hanya 168 cm), ia seringkali terlihat sering memenangi duel-duel udara dengan pemain lawan. Manahati juga jago bertahan.

Manahati menjalani peran sebagai bek tengah saat mengikuti Rahmad ke Persebaya versi ISL pada musim 2014. Posisi bermain tersebut dijalani saat ia membela Timnas Indonesia U-23 di SEA Games 2015 dan Asian Games 2015.

Saat tampil membela Tim Merah-Putih di ajang Piala AFF 2014, Alfred Riedl merotasi posisi sang pemain sebagai gelandang bertahan. Ia kini yang bermain di PS TNI, menjalani peran sama.

3 dari 9 halaman

Achmad Jufriyanto

Achmad Jufriyanto. (Bola.com/Nicklas Hanoatubun)

Pada tahun 2005, Achmad Jufriyanto meretas karier profesional di Persita Tangerang dengan bermain sebagai bek (bisa bermain sebagai stoper dan wing back). Pelatih Timnas Indonesia U-23, Foppe de Haan, melihat potensinya sebagai gelandang bertahan.

Dengan tinggi badan menjulang (180 cm) pemain kelahiran 7 Februari 1987 itu jadi sosok ideal saat membentengi lini pertahanan. Namun, ia punya kelebihan dalam kemampuan penguasaan bola dan passing terukur yang rata-rata tak dimiliki rata-rata bek.

Jupe dinilai lebih bisa bersaing bermain sebagai jangkar dibanding diplot sebagai bek. Pada saat itu Tim Garuda Muda sudah memiliki duet stoper yang tak tergantikan, Bobby Satria dan Taufik Kasrun.

Selama bertahun-tahun bermain di timnas junior, Jupe menikmati peran sebagai gelandang angkut air. Hal itu juga berlanjut di klub-klubnya yang dibelanya Arema Indonesia, Pelita Jaya, serta Sriwijaya FC.

Situasi berubah ketika ia mendarat di Persib Bandung pada 2013. Pelatih Tim Maung Bandung, Djadjang Nurdjaman, menginstruksikan dirinya kembali menjajal posisi sebagai bek.

Achmad Jupriyanto, tak terlihat kesulitan bermain sebagai palang pintu pertahanan. Malah sebaliknya selama dua musim di klub tersebut Jupe, jadi pemain yang tak tergantikan di sektor belakang. Pertahanan Persib sulit dijebol lawan kala Jupe mengawal pertahanan.

Tiga musim terakhir pemain bernomor punggung 13 tersebut kerap bermain di dua posisi, saat membela klubnya serta Timnas Indonesia senior, sebagai jangkar dan stoper.

4 dari 9 halaman

Kim Jeffrey Kurniawan

Kim Jeffrey Kurniawan (Bola.com/Nicklas Hanoatubun)

Kim Jeffrey Kurniawan memulai karier di Indonesia bersama Persema Malang pada musim 2010. Pemain yang sebelumnya berkiprah di klub semipro Jerman, FC 07 Heidelsheim, berposisi sebagai bek kiri.

Bertubuh munggil dan lari yang kencang, tipikal permainan Kim mirip kebanyakan wing back tradisional Indonesia. Dejan Antonic yang jadi nakhoda Pelita Bandung Raya pada musim 2013 mengubah posisi Kim yang kelahiran Muhlacker, Jerman, 23 Maret 1990, menjadi gelandang bertahan.

Dejan melihat potensi Kim sebagai gelandang. Sang pemain punya skill individu mumpuni serta kemampuan melakukan shooting jarang jauh yang bagus. Sesekali Kim juga kerap dimainkan sebagai gelandang sayap untuk menambah daya dobrak PBR.

Kim tampil ciamik di posisi barunya. Sukses PBR lolos ke semifinal Indonesia Super League 2014 tak lepas dari ketangguhan PBR dalam bertahan. Kim yang berposisi sebagai gelandang bertahan punya peran besar terhadap soliditas permainan klubnya.

Saat Dejan pindah ke Persib Bandung Kim ikut boyongan. Hanya saja ia terlihat tidak langsung nyetel dengan gaya bermain Maung Bandung. Pada laga-laga awal Torabika Soccer Championship (TSC) 2016 presented by IM3 Ooredoo performa Kim sempat dikritik oleh bobotoh.

Ia kerap dibanding-bandingkan dengan Dedi Kusnandar, gelandang bertahan Persib yang sudah pindah ke klub Malaysia, Sabah FA atau M. Taufik yang sering jadi cadangan di era Dejan.

Saat Dejan lengser digantikan oleh Djadjang Nurdjaman, banyak pengamat memprediksi Kim bakal selesai di Persib. Nyatanya tidak seperti itu. Ia tetap jadi pilihan utama era Djanur.

5 dari 9 halaman

Boaz Solossa

Boaz Solossa (Bola.com/Nicklas Hanoatubun)

Boaz Solossa yang berstatus sebagai kapten Persipura Jayapura bisa dibilang pemain yang multifungsi. Ia bisa dimainkan sebagai penyerang murni, penyerang/gelandang sayap, gelandang serang, atau bahkan bek sayap.

Saat pertama kali mentas di Piala AFF 2004 (kala itu bernama Piala Tiger) Boaz bermain sebagai penyerang murni berduet dengan Ilham Jayakesuma. Pelatih timnas kala itu, Peter Withe, yang fanatik dengan pola 4-4-2, menggeser Boaz sebagai gelandang sayap kiri, saat ia menurunkan Kurniawan Dwi Yulianto mendampingi Ilham.

Saat bermain di Persipura pada Liga Indonesia 2005, Boaz diplot sebagai bek sayap dalam skema 3-5-2 ala Rahmad Darmawan. Boaz mampu menjalankan dengan baik peran tersebut. Ia jadi bagian penting kesukesesan Tim Mutiara Hitam memenangi titel liga musim tersebut.

Di era Jacksen F. Tiago, Boaz Solossa bermain sebagai penyerang sayap kiri dan kanan. Ia menemukan bentuk permainan terbaik di posisi tersebut. Tiga gelar Indonesia Super League yang diikuti tiga trofi top scorer dan best player menegaskan nama Boaz sebagai penyerang sayap terbaik yang dimiliki Indonesia.

Uniknya, saat Jacksen didapuk sebagai caretaker pelatih Timnas Indonesia di Kualifikasi Piala Dunia 2014, Boaz dimainkan sebagai penyerang murni. Pada Piala AFF 2014, Boaz masuk jadi salah satu pemain yang diboyong Alfred Riedl pada fase penyisihan di Hanoi, Vietnam. Timnas Indonesia gagal ke semifinal, pemain kelahiran 16 Maret 1986 tersebut pun gagal unjuk produktivitas.

Kini ia punya kesempatan menebus kegagalan di ajang tersebut dua tahun silam jika dipilih Alfred Riedl masuk skuat utama Tim Merah-Putih.

6 dari 9 halaman

Samsul Arif

Samsul Arif (Bola.com/Nicklas Hanoatubun)

Sejatinya Samsul Arif berposisi sebagai penyerang murni. Namanya melambung ketika mengantarkan Persibo Bojonegoro juara Piala Indonesia 2012.

Ia jadi bagian penting skuat Timnas Indonesia di Piala AFF 2012. Samsul sedikit dari pemain berkualitas yang mau bergabung ke Tim Merah-Putih karena konflik dualisme kompetisi, pemain-pemain langganan timnas tak ikut membela negara karena dilarang klubnya yang berseberangan dengan PSSI.

Pada musim 2013, pemain kelahiran Bojonegoro, 14 Januari 1985 pindah ke Persela Lamongan. Ia unjuk gigi di tim Laskar Jaka Tingkir dengan koleksi 13 gol.

Arema Cronus sangat tertarik meminangnya. Di Tim Singo Edan posisi bermain Samsul Arif bergeser ke sayap, menyesuaikan strategi Rahmad Darmawan yang menempatkan Alberto Goncalves dan Cristian Gonzales sebagai target man. Di posisi barunya ia tidak kehilangan produktivitas. Ia mengoleksi 14 gol.

Saat Rahmad pindah ke Persebaya ISL, posisi bermain Samsul tetap sedikit melebar, atau bahkan sesekali ditempatkan sebagai penyerang lubang di belakang Cristian Gonzales yang diandalkan sebagai pengedor utama.

Keputusannya pindah ke Persib menjelang TSC 2016 agak mengejutkan, mengingat ia selalu menjadi pilihan utama di Tim Singo Edan. Di Persib, Samsul harus berjuang dari nol menembus posisi inti.

Ia harus bersaing dengan Sergio van Dijk dan Juan Belencoso, yang punya reputasi mentereng sebagai striker haus gol. Nyatanya Samsul tetap berkembang, walau ia diposisikan sebagai penyerang sayap dalam skema 4-3-3. Ia boleh berbangga karena lebih produktif dibandingkan dua striker tadi.

7 dari 9 halaman

Rudolof Yanto Basna

Rudolf Yanto Basna (Bola.com/Nicklas Hanoatubun)

Rudolf Yanto Basna salah satu pemain jebolan program pelatnas jangka panjang SAD Indonesia di Uruguay pada tahun 2011-2013. Pemain berdarah Papua tersebut sejak awal meretas karier bermain sebagai bek tengah.

Dengan postur bongsor (tinggi badan 186 cm) karier Yanto cepat melesat di Timnas Indonesia senior. Ia dipanggil Indra Sjafri untuk bergabung Timnas U-19 menggantikan Ryuji Utomo yang cidera, untuk tampil di Kejuaraan U-19 AFC 2014. Sebelumnya pemain kelahiran 12 Juni 1995 memperkuat Timnas Indonesia B di turnamen Cotif Spanyol.

Ia digaet Mitra Kukar pada musim 2015. Walau hijau pengalaman permainan Yanto tak kalah kelas dibanding bek-bek senior. Pada  turnamen Piala Jenderal Sudirman 2015, ia dinobatkan sebagai pemain terbaik. Pada turnamen tersebut Tim Naga Mekes menjadi juara.

Dejan Antonic, yang didapuk jadi pelatih Persib kepincut meminangnya. Di Tim Maung Bandung, ia menjalankan peran baru sebagai bek sayap kanan.

Di posisi barunya, Yanto bisa cepat beradaptasi. Ia cukup tangguh mengawal pertahanan serta kuat membantu serangan. Walau memang Yanto masih punya pekerjaan rumah mengasah kemampuan umpan lambungnya.

Belakangan Djadjang Nurdjaman mengembalikan posisi bermain Rudolf Yanto Basna sebagai stoper. Ia menggantikan bek tengah utama, Purwaka Yudi yang cedera.

8 dari 9 halaman

Irfan Bachdim

Irfan Bachdim (Bola.com/Istimewa)

Irfan Bachdim menjalani karier profesional di Belanda dengan bermain sebagai gelandang serang. Di Negeri Kincir Angin, Irfan sempat berkostum SV Argon (2000-2003) dan FC Utrecht (2003-2007). Ia kerap diposisikan sebagai penyerang sayap kanan.

Pemain didikan Akademi Ajax Amsterdam tersebut berubah posisi pemain saat membela Timnas Indonesia pada Piala AFF 2010. Pelatih Tim Garuda, Alfred Riedl, memasang Irfan sebagai penyerang berduet dengan Cristian Gonzales. Di turnamen tersebut pemain blasteran Indonesia-Belanda cukup produktif dengan mencetak tiga gol.

Irfan bermain di posisi yang sama saat bermain dl level klub Persema Malang. Selama periode 2010–2013 ia mencetak 28 gol.

Saat berkelana ke Chonburi FC (Thailand/2013), Sriracha (Thailand/2013), Ventforet Kofu (Jepang/2014), Consadole Sapporo (2015-2016), Irfan sering berganti-ganti posisi bermain. Baik sebagai penyerang, penyerang lubang, dan juga gelandang sayap.

Irfan Bachdim yang kelahiran, 11 Agustus 1988, tidak terlihat kesulitan menjalani berbagai peran. Sejak level junior di Belanda ia sudah dibiasakan bermain lebih dari satu posisi.

9 dari 9 halaman

Ramdani Lestaluhu

Ramdani Lestaluhu (Bola.com/Vitalis Yogi Trisna)

Saat meretas karier junior bersama Timnas Indonesia U-17 pada 2006, Ramdani Lestaluhu bermain sebagai gelandang tengah. Ia jadi playmaker Tim Garuda Muda besutan duet Iwan Setiawan-Aji Santoso.

Ramdani punya skill individu yang mumpuni serta piawai menyodorkan umpan-umpan terukur. Ia pun sempat digadang-gadang bakal sama hebatnya dengan seniornya asal Tulehu, Maluku, Imran Nahumarury.

Pelatih Persija Jakarta, Rahmad Darmawan, bereksperimen memainkan Ramdani sebagai gelandang sayap di ISL2009-2010, karena ia punya banyak stok gelandang tengah.

Di posisi barunya, permainan Ramdani justru lebih berkembang. Memiliki modal kecepatan serta skill individu yang bagus, Ramdani menjelma menjadi winger.

Sebagai pemain sayap ia tak hanya fasih menyuplai umpan lambung ke parastriker, tetapi juga agresif melakukan tusukan ke area kotak penalti.

Ramdani Lestaluhu jadi pemain sayap istimewa karena ia produktif mencetak gol.  Pada saat membela Sriwijaya FC pada ISL 2013, ia menyumbang tujuh gol. Pada musim selanjutnya saat kembali ke Persija, ia mengoleksi delapan gol.

Jangan heran jika Ramdani Lestaluhu masuk daftar pemain muda yang diboyong Afred Riedl ke Piala AFF 2014. Patut dicatat pula sejak membela Timnas Indonesia U-17, Ramdani hampir tak pernah absen bermain di timnas junior.

Ia anggota skuat Timnas Indonesia U-23 2011 dan 2013 dengan raihan prestasi runner-up. Sayang, pada TSC 2016 liukan lincah Ramdani dari sektor sayap jarang terlihat. Pelatih Persija, Paulo Camargo, kerap mencadangkannya.

Dari 12 laga yang telah dijalani Tim Macan Kemayoran, pemain asli Tulehu, Maluku, kelahiran 5 November 1991 tersebut, baru tiga kali turun  gelanggang berstatus sebagai pemain pengganti.