Setia Selama 14 Tahun, Zainal Arifin Enggan Disebut Legenda Persela

oleh Vincentius Atmaja diperbarui 12 Agu 2020, 18:45 WIB
Dua pemain Persela Lamongan, Saddil Ramdani dan Zainal Arifin merayakan gol yang dicetak ke gawang Mitra Kukar pada pekan ke-34 TSC 2016 di Stadion Surajaya, Lamongan, Jumat (16/12/2016). (Bola.com/Fahrizal Arnas)

Bola.com, Jakarta - Bagi publik sepak bola Lamongan, nama Zainal Arifin tentunya sudah tidak asing lagi. Pemain asal Jakarta ini sudah dianggap seperti warga asli Lamongan karena begitu lama membela Persela.

Pemain senior ini lahir dan besar di Jakarta serta Bekasi, namun kariernya di sepak bola profesional banyak ia dapatkan di Persela. Tercatat sudah 14 tahun ia banyak menghabiskan karier di tim Laskar Joko Tingkir.

Advertisement

Pemain yang berposisi sebagai bek ini datang ke Persela pada musim 2004. Ia mampu bertahan hingga musim 2018 sebelum memutuskan hijrah ke Persijap Jepara untuk kompetisi Liga 3 tahun 2019.

Usianya yang sudah memasuki 38 tahun, ternyata belum membuatnya habis. Penampilannya semakin garang, tidak takut menghadapi para pemain yang usianya jauh lebih muda. Bahkan ia mampu membawa Persijap juara Liga 3 sekaligus promosi ke Liga 2.

Banyak kalangan suporter Persela yang memintanya kembali. Bahkan banyak yang menyebut Zainal Arifin layaknya legenda bagi tim Persela, karena begitu setianya hingga 14 tahun bertahan. Akan tetapi, Zainal Arifin tak sependapat jika dirinya dikatakan masuk jajaran legenda Persela.

"Dalam hati ingin kembali bermain untuk Persela Lamongan, tapi sudah waktunya generasi muda yang meneruskan di Persela. Saya juga belum kepikiran menjadi pelatih, sejauh ini belum ada keinginan untuk itu," terang Zainal Arifin dalam channel YouTube, Jigrang, belum lama ini.

"Panggilan legenda itu bukan sembarang orang. Baru satu, yaitu almarhum Choirul Huda. Itu baru legenda Persela, kalau saya bukan. Tapi terima kasih kalau saya dibilang legenda bersama pemain-pemain lain," ujarnya.

 

Video

2 dari 3 halaman

Belum Pernah Jadi Kapten Tim

Pemain sayap Persela Lamongan, Zainal Arifin berebut bola dengan pemain Perseru Serui dalam laga yang berakhir dengan skor 2-0 di Stadion Surajaya, Lamongan, Kamis (17/6/2016) malam WIB. (Bola.com/Fahrizal Arnas)

Zainal Arifin pertama kali bermain di level klub adalah di Persipasi Bekasi, kemudian lanjut ke PSIM Yogyakarta. Dari situlah, Persela menemukan bakatnya sebagai pemain yang akan bertahan lama.

Benar saja, lewat kiprahnya bersama Persela Lamongan, Zainal Arifin pernah masuk ke Timnas Indonesia pada tahun 2005. Rekan satu angkatan dengan Agus Indra Kurniawan dan Syamsul Chaeruddin.

Menariknya, selama belasan tahun berseragam Persela, Zainal Arifin sama sekali belum pernah merasakan menjadi kapten tim. Meski pernah mendapat tawaran, namun ditolaknya.

"Alhamdulillah sampai sekarang belum pernah menjadi kapten tim. Pernah sih diberikan tawaran jadi kapten. Karena kapten harus punya kedewasaan dan tanggung jawab, saya merasa belum sanggup," bebernya.

 

3 dari 3 halaman

Belum Putuskan Pensiun

Usianya yang hampir mendekati kepala empat, Zainal Arifin masih enggan untuk gantung sepatu. Ia mengaku masih menikmati profesinya sebagai pesepakbola. Meski rekan-rekan seusianya sudah beralih menjadi pelatih.

Saat ini dirinya lagi lowong alias tidak membela klub manapun. Zainal Arifin bakal mempertimbangkan jika ada tawaran datang untuknya. Ia bertekad bisa menjadi seperti Bambang Pamungkas yang diakuinya sebagai seorang profesional.

""Saya belum pensiun dan masih ingin terus bermain bola. Terakhir saya bermain di Persijap Jepara. Sekarang free, jadi kalau memang ada tawaran lain akan saya pertimbangkan," tegasnya.

"Bambang Pamungkas harus dicontoh sebagai pemain sepak bola. Benar-benar yakin sepakbola bisa menghidupi keluarga, tidak harus main tarkam. Beliau memang profesional. Untuk pemain muda, alangkah baiknya berlatih lebih dari seniornya," pesan Zainal Arifin.