Sukses


Pengamat: Pemain Profesional yang Ikut Tarkam hingga Keroyok Wasit Sangat Memalukan

Bola.com, Jakarta - Insiden kericuhan pertandingan tarkam yang melibatkan pemain profesional hingga eks penggawa Timnas Indonesia semakin memanas. Wasit yang menjadi korban pengeroyokan pun akhirnya menempuh jalur hukum.

Yang terbaru, kuasa hukum korban telah melaporkan tujuh nama yang diduga ikut terlibat menganiaya wasit dalam laga yang berlangsung di Lapangan Pule, Desa Bener, Kecamatan Tengaran, Kabupaten Semarang, Minggu (2/6/2024) itu.

Tujuh nama orang yang menjadi terlapor antara lain Bayu Pradana (Barito Putera), Komarudin (Persikabo 1973), Ilham Mahendra (Barito Putera), Hery Susanto (Eks Persita Tangerang), Heru Setyawan (Eks Kalteng Putra), Khrisna Sulistya (PSIM Yogyakarta), dan Wahyu Wijiastanto (Eks Timnas Indonesia).

Semua pemain profesional yang dilaporkan ini diduga terlibat pengeroyokan saat memperkuat PS Putra Bakti menghadapi PS Ar Rafi pada laga final Turnamen Sepak Bola Bener Bersatu Cup yang memperebutkan Piala Bupati Kabupaten Semarang.

Yuk gabung channel whatsapp Bola.com untuk mendapatkan berita-berita terbaru tentang Timnas Indonesia, BRI Liga 1, Liga Champions, Liga Inggris, Liga Italia, Liga Spanyol, bola voli, MotoGP, hingga bulutangkis. Klik di sini (JOIN)

2 dari 4 halaman

Aksi Memalukan

Pengamat sepak bola Indonesia, Aris Budi, menyebut bahwa perilaku para pemain profesional yang terlibat insiden kekerasan ini sangat memalukan. Apalagi, kejadiannya terjadi pada pertandingan level tarkam.

“Itu salah satu fenomena yang memang ada di Indonesia. Tarkam itu di dunia mana pun juga ada, mungkin saja terjadi kontak fisik,” kata Aris Budi saat dihubungi Bola.com, Senin (3/6/2024)

“Namun, yang terjadi di Semarang kemarin, itu yang membikin malu, terutama untuk para pesepak bola di Indonesia dan individunya sendiri yang terlibat,” imbuh eks pelatih Persik Kediri itu.

3 dari 4 halaman

Langgar Nilai Sportivitas

Menurut Aris Budi, para pemain profesional yang semestinya memegang teguh nilai-nilai luhur dalam permainan sepak bola malah mencederainya. Inilah yang akhirnya bisa membuat nama mereka tercoreng.

“Karena, mereka pemain profesional. Mereka semestinya sudah memahami dan menaati nilai-nilai sportivitas dan fairplay. Bagaimanapun juga tindakan itu tidak dibenarkan. Apalagi, pertandingannya hanya sekelas antarkampung,” ujarnya.

“Hal itu membuat pemain yang terlibat mendapatkan sorotan publik. Ini bisa jadi bahan pergunjingan oleh orang-orang yang tidak senang. Para pemain akhirnya juga menjadi sasaran bullyan. Inilah yang akhirnya menurunkan kredibilitas mereka sebagai pemain profesional,” lanjutnya.

4 dari 4 halaman

Adu Jotos Keroyok Wasit

Dalam tayangan video yang beredar di media sosial, para pemain PS Putra Bakti yang menggunakan jersey berwarna hitam terlihat sempat terlibat gesekan dengan pemain PS Ar Rafi yang menggunakan jersey warna merah muda.

Terlihat beberapa pemain dari PS Putra Bakti menyerang pemain PS Ar Rafi dengan nomor punggung 16. Beberapa pemain sebetulnya sudah terlihat berupaya meredam aksi kekerasan tersebut.

“Awal mula kejadian, Bayu Pradana mendapatkan kartu merah dan tidak terima, kemudian melakukan protes terhadap wasit hingga memukul, menendang wasit, dan memprovokasi pemain lainnya,” tulis @forumwasitindonesia.

Video Populer

Foto Populer