Sukses


Feature: Ambisi Membawa Bulutangkis Sejajar dengan Tenis

Bola.com, Jakarta - Apa yang lebih menarik, bulutangkis atau tenis? Perdebatan ini bukan hal baru, karena sudah muncul sejak bertahun-tahun lalu. Bicara menarik atau tidak memang sangat subjektif. Namun, ada satu fakta yang sulit dibantah. Tenis jelas lebih populer dibandingkan bulutangkis.

Tak heran, ambisi insan bulutangkis menyaingi popularitas tenis kembali mengemuka. Kali ini asa tersebut ditiupkan mantan juara Olimpiade 2004 asal Indonesia, Taufik Hidayat. Dia berharap suatu saat nanti bulutangkis bisa merambah setiap sudut dunia, bukan hanya didominasi negara-negara Asia dan segelintir negara Eropa.

Mantan pebulutangkis tunggal putra andalan Indonesia tersebut tak sekadar berangan-angan. Ambisi Taufik disalurkan lewat aksi nyata bertajuk The Legends Vision yang digagas bersama tiga legenda bulutangkis dunia, Lin Dan (Tiongkok), Peter Gade (Denmark), dan Lee Chong Wei (Malaysia). Produsen peralatan olahraga, Yonex, turut mendukung aksi mereka.

Acara The Legends Vison sudah digelar di dua negara. Pertama di Tiongkok, negara asal Lin Dan. Sesi kedua berlangsung di negara asal Taufik Hifayat, Indonesia. Selama seharian, The Legends Vision menggelar berbagai kegiatan di Hotel Mulia dan Gedung Bulutangkis Asia-Afrika, Jakarta, Senin (17/8/2015). Ada talkshow, demo permainan para pebulutangkis dunia, laga ekhibisi bintang-bintang bulutangkis, hingga coaching clinic untuk para pelajar. Tiga legenda hadir, minus Lin Dan gara-gara ada urusan lain di Tiongkok.

Berikutnya acara The Legends Visoon bakal digelar di Kopenhagen, Denmark dan Kuala Lumpur, Malaysia. “Tahun ini memang baru empat negara. Tahun berikutnya semoga bisa lebih banyak lagi (jumlah negaranya),” kata Taufik.

Taufik menyatakan misi utama The Legends Vision adalah mengembangkan olahraga bulutangkis. “Sekarang olahraga ini memang sudah besar, tapi kami ingin lebih besar lagi. Kalau bisa menyamai tenis,” imbuh pria kelahiran Pangalengan, Kabupaten Bandung, Jawa Barat itu.

Bulutangkis punya banyak penggemar fanatik di Indonesia. Atmosfer pertandingan bulutangkis di Tanah Air nyaris tak ada duanya, gegap gempita dan penuh gairah. Olahraga tepok bulu ini juga punya fans besar di Malaysia, Tiongkok, Korea, Thailand, India, Denmark, dan Inggris.

Tapi, peta persebaran pelaku dan penikmat bulutangkis masih terfokus di Asia. Bulutangkis hanya mampu menancapkan kuku di beberapa negara Eropa, seperti Inggris dan Denmark, belakangan Spanyol mencuat lewat Carolina Marin yang baru saja menjuarai nomor tunggal putri Kejuaraan Dunia 2014 dan 2015. Bandingkan dengan tenis yang bisa menembus berbagai sudut dunia, mulai Eropa, Amerika Selatan, Asia hingga Afrika. Cover media juga sangat luas. Alhasil, popularitas tenis melesat meninggalkan bulutangkis.

“Kekuatan bulutangkis masih terpusat di Asia dan beberapa negara Eropa. Program ini (The Legends Vision) bakal fokus ke luar Asia. Mungkin ke Amerika Selatan dan Eropa Timur. Negara-negara yang belum terlalu mengenal bulutangkis,” beber Taufik.

Sejumlah penonton bersorak sorai pada laga Yonex Legends Vision di GOR Asia Afrika, Jakarta, Senin (17/8/2015). (Bola.com/Vitalis Yogi Trisna)

Di negara-negara tersebut, para legenda tersebut akan mengajak anak-anak dan remaja supaya menyukai bulutangkis dan memotivasi mereka supaya tertarik terjun langsung hingga bisa berprestasi seperti empat legenda tersebut. “Biar mereka pengen seperti Lin Dan atau Lee Chong Wei. Intinya ingin memotivasi mereka. Kami ingin mengembangkan bulutangkis ke seluruh dunia,” beber Taufik.

Suami Ami Gumelar itu menyebut selain memperkenalkan bulutangkis ke wilayah Amerika Selatan, Eropa Timur dan Afrika, salah satu tantangan besar adalah menembus pasar Amerika Serikat. Jika bisa menguasai Amerika, diyakini bisa lebih cepat mendongkrak popularitas bulutangkis. “Lihat saja kekuatan Amerika. Turnamen NBA yang hanya digelar di negara mereka saja bisa mendunia. Padahal tidak digelar di negara-negara lain juga, hanya kompetisi domestik,” kata Taufik.

Komentar senada dilontarkan Lee Chong Wei. Dia berharap bisa memperkenalkan bulutangkis ke wilayah-wilayah yang benar-benar tak mengenal olahraga tepok bulu itu. “Ya Afrika atau Amerika Selatan, ke kota yang sama sekali tak tahu bulutangkis,” ujar pria yang gagal menjadi juara di Kejuaraan Dunia 2015 itu.

Namun, apa faktor lain yang membuat popularitas bulutangkis begitu tertinggal dari tenis? Selain cover media, faktor finansial kemungkinan jadi salah satunya penyebabnya. Sponsor-sponsor raksasa lebih tertarik menyuplai dana ke tenis daripada bulutangkis.

Tengok saja, prize money turnamen bulutangkis nominalnya sangat jauh di bawah turnamen tenis. Sebagai perbandingan, hadiah total turnamen bulutangkis bergengsi All England total mencapai 500.000 Dollar AS atau sekitar Rp 6,9 miliar. Adapun turnamen tenis Wimbledon yang sama-sama digelar di Inggris menyediakan total hadiah senilai 26 juta poundsterling atau Rp 56,09 miliar!

Usaha apa yang bisa dilakukan insan bulutangkis untuk mengejar gap besar dengan tenis itu? Peter Gade mencoba memberi jawaban. “Kami harus berusaha membangkitkan anak-anak muda supaya bisa membawa bulutangkis ke level yang lebih tinggi. Bintang-bintang baru juga harus terus bermunculan karena itu bisa menjadi daya tariknya. Setelah generasi kami, kini ada Chen Long, Jan O Jorgensen dan lain-lain. Harus lahir terus bintang seperti mereka yang datang ke panggung bulutangkis,” ujar pria asal Denmark itu.

Namun, itu pun tak menjamin bulutangkis mampu mengejar ketertinggalannya dari tenis. Fakta ini sepertinya disadari oleh Peter Gade. “Tapi haruskah membandingkan bulutangkis dengan tenis? Bukankah ini olahraga yang berbeda? “ tanya Peter Gade sembari tertawa renyah.

Baca Juga:

Kejuaraan Dunia 2015: Carolina Marin Campeon!

Gagal Jadi Juara Dunia, Liliyana Natsir Curhat di Instagram

Kejuaraan Dunia 2015: Zhao Yunlei Kembali Rengkuh Gelar Ganda

Video Populer

Foto Populer