Sukses

Luis Milla Vs Gerd Zeise: Gengsi Piala Eropa dengan Piala Dunia

Bola.com, Jakarta - Duel uji coba Timnas Indonesia U-22 kontra Myanmar di Stadion Pakansari, Cibinong, Kab. Bogor, Selasa (21/3/2017) jadi pertemuan perdana antara Luis Milla dengan Gerd Zeise. Sebagai pelatih keduanya layak disegani.

Luis Milla datang ke Indonesia dengan nama besar. Saat aktif bermain ia bermain di sejumlah klub tenar Spanyol, layaknya Real Madrid, Barcelona, serta Valencia.

Begitu gantung sepatu dan banting setir sebagai pelatih, kariernya cepat melesat. Setelah menangani dua klub Negeri Matadr Pucl dan Getafe, pelatih kelahiran 12 Maret 1966 didapuk menukangi Timnas Spanyol U-19 pada 2008. 

Milla kemudian naik kelas menjadi pelatih Timnas Spanyol U-20 dan U-21. Pada 2011, ia mengantarkan negaranya jadi jawara Piala Eropa U-21.

Spanyol yang dibela pemain-pemain kaliber macam Ander Herrera, Juan Mata, Thiago Alcantara mengalahkan Swiss di partai puncak turnamen dengan skor 2-0.

Sayang kiprah gemilang Milla tak berlanjut, ia dipecat setelah gagal meloloskan Spanyol U-23 ke putaran final Olimpiade 2012.

Sempat berkelana ke klub Arab Saudi, Al Jazira, arsitek yang saat jadi pemain berposisi sebagai gelandang tersebut mudik ke negaranya menjadi pembesut Lugo dan Real Zaragoza.

Melihat rekam jejaknya, PSSI berharap Luis Milla bisa menyajikan prestasi. Tugas perdana yang dibebankan padanya adalah membawa Timnas Indonesia U-22 jadi jawara SEA Games 2017.

Lantas bagaimana dengan Gerd Zeise? Pelatih gaek asal Jerman yang satu ini kariernya tidak sekinclong Milla.

Informasi mengenai pelatih yang satu ini terhitung minim. Pasalnya ia terhitung jarang menukangi klub top negaranya atau dari kawasan Eropa lainnya.

Sebelum bertualang ke Myanmar, Zeice tercatat sempat melatih klub asal Belgia, Harelbeke. Klub ini pun bukan klub tenar hanya berkiprah di level Jupiler League (kasta kedua).

Namun, jangan remehkan Gerd Zeise. Ia mengharumkan nama Myanmar dengan meloloskan timnas level U-19 mereka lolos ke Piala Dunia U-20 edisi 2014.

Sebuah pencapaian yang amat luar biasa mengingat Myanmar di level senior selama ini lebih dikenal sebagai negara penggembira di persaingan Asia Tenggara.

Zeice melakukan revolusi besar-besaran di negara penganut faham sosialis tersebut, dengan berani memaksimalkan pemain-pemain belia. Saat Myanmar lolos ke semifinal Piala AFF 2016 lalu, mayoritas pemain mereka kisaran usia 17-23 tahun.

Berbeda dengan Luis Milla yang baru mengenal gaya bermain anak-asuhnya di Timnas Indonesia U-22, karena baru sebulan melatih mereka, Gerd Zeise bisa dibilang sudah katam dengan satu-persatu pilar The Golden Stars.

 

 

 

0 Komentar

Belum ada komentar

    Video Populer

    Foto Populer