Kisah Zulkifli Syukur, Anak Makassar yang Tak Pernah Gabung PSM

oleh Abdi Satria diperbarui 23 Sep 2015, 16:20 WIB
MERANTAU-Zulkifli Syukur, sudah sepuluh tahun merantau meninggalkan Sulawesi Selatan. (Bola.com/Ahmad Latando)

Bola.com, Makassar- Zulkifli Syukur sangat populerdi pentas sepak bola nasional. Bek kanan kelahiran Makassar, 3 Mei 1984 ini, mulai dikenal publik setelah terpilih dalam timnas U-22 yang mendapat kesempatan berlatih di Belanda pada tahun 2006. Di kota Den Haag, Zulkifli bersama pemain Garuda Muda lainnya ditempa pelatih legendaris asal Belanda, Foppe de Haan, untuk menghadapi Asian Games 2006 dan SEA Games 2007.

Sepulang berlatih dari Belanda, Zulkifli mulai wara-wiri di timnas baik di level U-23 dan senior sampai saat ini. Terakhir, ayah dari dua putri ini tercatat sebagai kapten timnas di Piala AFF 2014.

Advertisement

Ada poin menarik dari catatan karier Zulkifli. Meski lahir dan besar di Makassar, dia tidak pernah sekalipun membela tim kebanggaan kota Daeng, PSM Makassar, baik di level junior maupun senior. Seperti apa perjalanan Zulkifli di sepak bola?

Merantau Naik Kapal Laut

Pemain Mitra Kukar, Zulkifli Syukur, merasa belum berjodoh dengan PSM. (Bola.com/Vitalis Yogi Trisna)

Zulkifli mengawali karir di level senior saat membela Persim Maros pada tahun 2005. Persim adalah klub milik Pemda Maros yang bertetangga dengan Makassar. Kiprah Zulkifli bersama Persim tergolong datar-datar saja. Beruntung, bakatnya tercium oleh Rivai Arsyad, salah satu pelatih lokal Makassar. Bersama Hendra Ridwan, teman semasa kecilnya sampai sekarang, Zulkilfi diajak Rivai merantau ke PKT Bontang pada akhir 2005. Ketiganya ke Bontang via Balikpapan menumpang kapal laut kelas ekonomi.

"Saat itu, karena muatan kapal penuh, kami tidur berdesak-desakan dengan penumpang lain. Saya bilang kepada Zulkifli dan Hendra suatu saat nanti, kalian akan menikmati perjalanan ke mana pun dengan pesawat," kenang Rivai yang musim lalu melatih klub Divisi Utama, Yahukimo FC.

Ucapan Rivai akhirnya terbukti di kemudian hari. Zulkifli dan Hendra bukan hanya sepaket di PKT dan timnas U-23 yang berlatih di Belanda, tapi pada sejumlah klub di Indonesia termasuk di Mitra Kukar saat ini. Dalam berbagai kesempatan wawancara dengan Bola.com, Zulkifli enggan berkomentar banyak ketika ditanya mengapa dirinya tidak pernah membela PSM, klub kebanggaan publik Makassar.

"Semua pemain asal Makassar pasti ingin bermain di PSM termasuk saya. Ini mungkin soal kesempatan dan jodoh saja sehingga sampai saat ini saya tidak berkostum PSM," ungkap Zulkifli.

Sebenarnya, Zulkifli dan PSM nyaris berjodoh pada 2008. Kala itu, dia dan manajemen PSM sudah sepakat soal harga. Zulkifli pun sudah membeli rumah buat istri dan anaknya di kawasan Tanjung Bunga, Makassar. Akan tetapi, jelang ISL 2008-2009, kesepakatan itu kandas karena pelatih PSM saat itu, Hanafing, hanya mau merekrut Zulkifli tanpa menyertakan Hendra, paket Zulkifli selama ini. Keduanya akhirnya hengkang ke Arema Indonesia dan berhasil membawa klub Malang itu juara ISL.

Zulkifli pun semakin jauh dari PSM. Meski di setiap jeda kompetisi, dia selalu pulang kampung. Ia sering berlatih dengan rekan sepermainan semasa kecil di Lapangan Hasanuddin dan Stadion Andi Mattalatta Mattoangin. Eks bek Persib Bandung ini juga tidak menolak tawaran main di sejumlah turnamen tarkam di Makassar. Terakhir, dia membela Nahusam FC di Liga Ramadhan 2015.

"Saya main tarkam sekadar cari keringat dan tetap terbiasa dengan atmosfer pertandingan. Tinggal pintar-pintar saja agar tidak cedera," jelas Zulkilfi.

Faktor Alfred Riedl

Sebenarnya, di awal ISL 2015, Zulkifli nyaris berbaju PSM. Kala itu, pelatih Juku Eja, Alfred Riedl memasukkan namanya sebagai pemain yang wajib direkrut. Manajemen PSM langsung mendekati Zulkifli sepulang membela timnas Indonesia di Piala AFF 2014.

Direktur Teknik PSM, Sumirlan, sangat yakin bisa mendatangkan sang pemain. Apalagi Zulkifli adalah eks Persim Maros yang didanai oleh Semen Bosowa, tempat di mana Sumirlan menjabat sebagai Direktur Pemasaran.

"Kami sudah sepakat soal harga. Tinggal masalah administrasi saja," ujar Sumirlan kala itu.

Dasar tidak berjodoh, Zulkifli kembali gagal berbaju PSM. Saat dikonfirmasi, Zulkifli enggan mengungkapkan alasan pasti kenapa dirinya tidak jadi membela PSM. Saat itu, dia hanya bilang dirinya masih resmi berstatus sebagai pemain Mitra Kukar. Bisa saja soal administrasi antara manajemen Mitra Kukar dengan PSM jadi kendala. Hanya Zulkifli, Mitra Kukar, dan PSM yang tahu. Karena setelah itu, proses perekrutan Zulkifli yang gagal langsung terlupakan publik Makassar menyusul gencarnya pemberitaan PSM mempersiapkan tim.

Di Piala Presiden 2015, luka lama antara manajemen PSM dan Zulkifli kembali terkuak saat Juku Eja dipertemukan dengan Mitra Kukar pada perempat final. Pada pertemuan di Stadion Aji Imbut, Tenggarong, akhir pekan lalu, Zulkifli hanya tampil dua menit karena salah jatuh usai melakukan tekel bersih kepada winger Juku Eja, Rahmat Syamsuddin. Dia akhirnya ditarik keluar karena sikutnya memar. Beruntung, cederanya itu tidak parah. Zulkifli diprediksi bisa tampil bersama Mitra Kukar pada pertemuan kedua melawan PSM di Stadion Andi Mattalatta Mattoangin, Sabtu (26/9/2015).

Sebagai kapten Mitra Kukar, dia harus memimpin rekan-rekannya mempertahankan kemenangan 1-0 pada leg pertama sekaligus mengamankan tiket ke semifinal. Jelas bukan beban yang ringan karena di lain sisi, dia harus membunuh harapan publik Makassar dan PSM yang ingin menjadikan gelar Piala Presiden sebagai kado ultah ke-100, yang jatuh pada 2 November 2015. 

Baca Juga:

Cedera Zulkifli Syukur Tidak Parah, Ia Bisa Tampil di Makassar

Fans PSM Siapkan "Teror" buat Mitra Kukar di Makassar

Pelatih PSM: Strategi Mitra Kukar Terbaca, Pasti Bakal Parkir Bus