Sukses


Feature: Yusuf Ekodono, Kisah Perjuangan Eks Striker Persebaya

Bola.com, Surabaya Saat masih aktif jadi pemain, Yusuf Ekodono, jadi salah satu striker top Tanah Air era 1990-an. Ia merupakan salah satu anggota Timnas Indonesia yang sukses mempersembahkan medali emas SEA Games 1991. Kini ia banting setir jadi pelatih. Karier komandan area teknik tak secerlang saat dirinya jadi pemain.

Dibanding sejumlah pelatih muda Tanah Air yang namanya sedang meroket macam Aji Santoso, Widodo Cahyono Putro dan beberapa pelatih muda lainnya, Yusuf Ekodono lebih dulu menggeluti dunia kepelatihan. Namun, karier Yusuf justru tertinggal dibanding mereka.

Memulai karier pelatih pada tahun 2003, Yusuf dipercaya sebagai pelatih Persela U-21. Di tim itulah Yusuf menerapkan ilmu kepelatihan yang ia miliki untuk kali pertama. Hasilnya memang tak terlalu mengilap, namun kemampuan Yusuf mulai mendapat pengakuan dari insan sepak bola Tanah Air, khususnya Jatim.

Tak heran, setelah semusim memoles Persela U-21, Yusuf langsung mendapat tawaran untuk melatih PSBI yang kala itu masih tampil di Divisi I. Hanya setahun di klub asal Blitar tersebut, Yusuf hijrah ke klub Divisi III regional Jatim, Maestro.

Karier Yusuf pun terus menanjak, pada 2006 ia mulai mendapat tempat di klub yang membesarkan namanya. Namun, karena hanya mengantongi lisensi pelatih B AFC, Yusuf hanya diberi kewenangan untuk menangani Persebaya junior. Hanya semusim bersama klub berjulukan Bajul Ijo itu, legenda Persebaya itu harus hijrah ke Persiram Raja Ampat (2007), Krakatau Steel (2008) dan PS Sumba Barat (2008-2010).

BERJUANG - Yusuf Ekodono, berjuang keras mambangun reputasi sebagai pelatih. (Bola.com/Zaidan Nazarul)

Selesai mengembara ke beberapa klub di luar Jawa, pada 2011 Yusuf pulang kampung. Ayah eks pemain Timnas U-23 Fandi Eko Utomo itu pun diplot menjadi asisten pelatih Persebaya yang saat itu bermain di Divisi Utama. Terakhir, Yusuf menukangi Persebaya U-21 pada 2014.

Yusuf mengakui, ia belum bisa meningkatkan kariernya lebih tinggi karena terhambat lisensi kepelatihan yang ia miliki. Padahal, kesempatan untuk menapaki karier sebagai pelatih ISL sangat terbuka. Maklum, Yusuf memiliki pengalaman melatih di banyak klub, juga nama dan reputasi besar. Namanya pun masih melekat kuat di ingatan masyarakat, terutama di Surabaya.

“Bukannya tidak mau meningkatkan karier. Tapi selama ini jadwal kursus kepelatihan lisensi A AFC kerap bertabrakan dengan agenda klub,” tuturnya.

Ia mengutarakan, keinginannya untuk naik kelas sangat kuat. Yusuf pun sudah persiapkan, dan terus memperbarui ilmu kepelatihannya, sehingga jika sewaktu-waktu ada kursus kepelatihan lisensi A AFC, Yusuf bisa langsung mengikutinya.
 
Layaknya pelatih lain, menjadi arsitek Timnas Indonesia juga menjadi mimpi Yusuf sejak memilih karier di dunia kepelatihan. Namun Yusuf menyadari semua asa itu hanya bisa terwujud kalau lisensi A AFC sudah ia miliki.  

“Kalau sudah ada lisensi A AFC, saya yakin bisa mewujudkannya.  Ini hanya soal waktu, karena saya merasa sudah cukup mumpuni untuk menjadi pelatih Timnas,” tutur Yusuf kelahiran 16 April 1967.

Yusuf sendiri cukup sadar bahwa menjadi pelatih Timnas tidaklah mudah. Karena itu, ia ingin melakukannya secara bertahap. Sebelum menjadi pelatih Timnas, Yusug ingin membuktikan kemampuannya dengan menjadi peramu klub ISL terlebih dulu.

Setelah itu baru ia akan melamar untuk menjadi pelatih timnas kelompok umur (KU), atau asisten pelatih timnas senior. “Saya punya obsesi kuat untuk menjadi pelatih timnas. Sebab, itu akan melengkapi karier saya di dunia sepak bola Indonesia. Alangkah bangganya saya dan keluarga kalau hal itu bisa saya capai,” sebutnya.

Sayang, karier Yusuf sebagai pelatih harus terhambat oleh kondisi sepak bola Tanah Air yang sedang carut-marut akibat sanksi FIFA. Ia harus sabar menunggu sampai sepak bola Indonesia kembali normal.  

Yusuf sendiri saat ini masih aktif menjadi pelatih di PS Fajar (klub internal Aspkot PSSI Surabaya). Di klub amatir tersebut, ia memiliki sekitar 100 siswa dengan beragam usia. Yusuf mengelompokkan mereka dalam beberapa kelompok umur.  

“Dalam kondisi apa pun, pembinaan sepak bola di Indonesia tidak boleh mati. Saya dan insan sepak bola Indonesia yang peduli terhadap nasib sepak bola kita, harus terus melakukan pembinaan,” terang pria kelahiran 16 April 1967 itu.

Yusuf memang terbilang salah satu pelatih yang berhasil dalam melakukan pembinaan. Minimal hal itu terbukti pada kedua anaknya, Fandi Eko Utomo dan Wahyu Subo Seto yang sudah mengorbit di kompetisi kasta tertinggi Tanah Air, ISL. Bahkan Fandi sempat menjadi salah satu bintang Timnas U-23 di SEA Games 2013.

"Ayah amat berperan besar di karier saya. Kebetulan karena sama-sama berposisi sebagai penyerang, ia banyak berbagi tips menjadi penyerang tangguh yang haus gol," tutur Fandi Eko yang kini jadi salah satu pilar Persebaya Surabaya.

Selain Fandi dan Subo, Yusuf saat ini sedang memoles anak terakhirnya, Novaldo Troy Putra untuk mengikuti jejak kedua kakaknya. "Novaldo masih dalam proses. Semoga ia juga bisa seperti kakaknya," katanya.       

Baca Juga:


(FEATURE) : Aktivitas Penggawa Persija Saat ISL 2015 Terhenti

(FEATURE) : Aktivitas Penggawa Persija Saat ISL 2015 Terhenti

(Feature): Suguhan Sepak Bola Tunanetra di Karebosi Makassar

Misi Berat Timnas Indonesia Hadapi Thailand di Piala AFF 2018

Tutup Video

0 Komentar

Belum ada komentar

    Video Populer

    Foto Populer