Sukses


RB Leipzig, Bayi Super yang Siap Meruntuhkan Bayern Munchen

Bola.com, Jakarta - Dari segi usia, RB Leipzig bisa dianalogikan sebagai seorang bayi. Namun, bayi yang satu ini punya peluang menjadi "bayi super" pengganggu dominasi Bayern Munchen di Bundesliga.

Dari sisi hukum, RB Leipzig baru diresmikan pada 19 Mei 2009. Pada usia yang baru tujuh tahun, Die Bullen (julukan RB Leipzig), sudah bersanding bersama Bayern di puncak klasemen Bundesliga hingga pekan kesepuluh.

Hebatnya lagi, RB Leipzig mengukir catatan ini pada debutnya di Bundesliga. Tidak terkalahkan dalam 10 laga awal liga domestik membuat RB Leipzig melewati rekor Preston North End (Inggris) pada 1888-1889! Keduanya sama-sama berstatus klub promosi di lima liga terbesar Eropa.

Lawan-lawan seperti Borussia Dortmund, VfL Wolfsburg dan Werder Bremen dibuat mati kutu ketika menghadapi Die Bullen. Pasukan Raplh Hasenhuttl ini mencatat kemenangan dalam enam laga terakhir Bundesliga.

Impian besar pun menyeruak mengiringi hasil positif pada musim ini. RB Leipzig berharap bisa menyamai catatan FC Kaiserslautern yang menjadi juara Bundesliga 1997-1998 dengan mengemban status klub promosi.

Bila dilihat dari jadwal yang tertera, kesempatan tersebut cukup terbuka bagi RB Leipzig. Die Bullen hanya bermain di Bundesliga, sementara langkah mereka sudah terhenti oleh Dynamo Dresden di DFB Pokal, 20 Agustus lalu.

Hal itu membuat konsentrasi dan fisik para pemain bisa terus terjaga. Asalkan, masalah cedera pemain tidak menghantam RB Leipzig hingga musim ini berakhir. Mininal, jika tak menjadi juara, Die Bullen bisa melenggang mulus menuju Liga Champions musim depan.

2 dari 3 halaman

RB, Red Bull atau RasenBallsport?

Apa yang dialami RB Leipzig saat ini tak terlepas dari peran pengusaha asal Austria, Dietrich Mateschitz. Pendiri perusahaan minuman energi, Red Bull, itu memutuskan berani membeli klub sepak bola Jerman, SSV Markranstadt, melalui negosiasi yang berlangsung selama lima pekan.

Setelah berhasil mengambil alih SSV Markranstadt, pihak investor ingin mengubah nama klub menjadi Red Bull Leipzig, yang akan menjadikannya sebagai klub kelima milik perusahaan ternama Eropa itu.

Namun, peraturan di Jerman menghalangi upaya pengubahan nama tersebut. Federasi Sepak Bola Jerman melarang sebuah klub dinamai dengan embel-embel perusahaan.

Pihak investor tak kehabisan ide. Maka, nama klub diubah dengan inisial RB Leipzig, yang merupakan kepanjangan dari RasenBallsport Leipzig. Inisial RB ini tetap identik dengan sebutan Red Bull, meski nama resminya adalah RasenBallsport.

Masalah selanjutnya kembali muncul. Setiap klub profesional Jerman diwajibkan memiliki akademi sendiri pada empat level berbeda. Sebagai klub yang mengambil alih saham SVV Markranstadt, RB Leipzig tidak memiliki sarana pengembangan pemain muda.

Kembali lagi, uang yang pada akhirnya berbicara. RB Leipzig lantas membeli FC Sachsen Leipzig untuk mengakomodasi kebutuhan pemain di level akademi.

3 dari 3 halaman

Klub paling dibenci

Protes besar pun muncul soal status kepemilikan klub. Di Jerman, ada aturan "50+1" yang membuat anggota klub mempunyai suara terkait kebijakan yang diambil manajemen. Seluruh klub profesional Jerman memang dimiliki anggota klub yang mayoritas adalah suporter.

RB Leipzig tidak menyalahi aturan ini. Mereka tercatat "hanya" memiliki 17 anggota klub. Jumlah tersebut sangat jauh dari anggota klub Bayern yang mencapai 224.000 ataupun Dortmund yang menembus 139.000.

Neraca keuangan klub dianggap stabil bila para anggotanya membayar iuran per tahun. Dalam kasus ini, anggota resmi Dortmund harus mengeluarkan dana 62 euro per tahun demi menghidupkan roda klub.

Sementara itu, satu anggota klub RB Leipzig diharuskan menyetor dana sekitar 1.000 euro per tahun. Suatu hal yang dianggap akal-akalan karena kabarnya, 17 anggota klub Die Bullen memiliki kedekatan dengan perusahaan Red Bull.

Para pemain RB Leipzig merayakan gol ke gawang Mainz 05 pada laga Bundesliga di Red Bull Arena, Leipzig, Minggu (6/11/2016). (AFP/John MacDougall)

Tak ayal, beberapa pendukung klub lain mencium adanya usaha menjadikan sepak bola Jerman, murni sebagai lahan bisnis, bukan olahraga.

"Tentu saja, Dortmund juga menghasilkan uang, namun dengan bermain sepak bola. Sementara itu, RB Leipzig bermain sepak bola untuk menjual produk dan gaya hidup. Ini hal yang berbeda," kata Jan-Henrik Gruszecki, perwakilan dari pendukung Dortmund.

Apapun yang terjadi, RB Leipzig tetap diakui sebagai satu di antara klub sah Bundesliga. Kekuatan uang menjadi satu di antara banyak faktor yang membuat Die Bullen hanya butuh waktu sekejap untuk naik lima strata hingga kini tampil di Bundesliga. Konon, RB Leipzig telah menggelontorkan lebih dari Rp 1 triliun selama tujuh tahun ini.

Para pesaing pun sudah mewanti-wanti sepak terjang RB Leipzig. Tak tanggung-tanggung, mantan petinggi Bayern, Uli Hoeness, tak terkejut bila Die Bullen bisa mengikuti jejak Leicester City yang menjadi juara Premier League pada musim lalu.

"Saya harus berkata jujur, RB Leipzig merupakan klub yang sangat tangguh. Musim ini, mereka hanya bersantai pada tengah pekan, sementara Bayern Munchen harus fokus tampil di Liga Champions," kata Hoeness.

Jadi, kita tunggu saja di posisi berapa RB Leipzig bisa mengakhiri Bundesliga musim 2016-2017?

Sumber: Berbagai sumber

Saksikan cuplikan pertandingan dari Liga Inggris, La Liga, Liga Champions, dan Liga Europa dengan kualitas HD di sini:

Video Populer

Foto Populer